Selasa, 17 Mei 2016

KISAH NABI SYU'AIB

Banyak orang di zaman kita beranggapan bahwa agama hanya merupakan program-program yang kosong dan nilai-nilai akhlak semata. Ini adalah keyakinan klasik dan salah. Pada hakikatnya, agama adalah sistem dalam kehidupan dan pergaulan. Intinya ialah hubungan dengan Allah SWT. Oleh karena itu, usaha memisahkan antara problem-problem tauhid dan perilaku manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari berarti memisahkan agama dari kehi�dupan dan mengubahnya menjadi adat-istiadat, tradis-tradisi, dan acara-acara ritual yang hampa. Kisah Nabi Syu'aib menampakkan hal yang demikian secara jelas.
Allah SWT mengutus Syu'aib pada penduduk Madyan:
"Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka, Syu 'aib. Ia berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.'" (QS. Hud: 84)
Ini adalah dakwah yang sama yang diserukan oleh setiap nabi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara satu nabi dan nabi yang lain. Ia merupakan dasar akidah dan tanpa dasar ini mustahil suatu bangunan akan berdiri. Setelah peletakan bangunan tersebut, Syu'aib mulai menyuarakan dakwahnya:
"Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS. Hud: 84)
Setelah menjelaskan masalah tauhid secara langsung, Nabi Syu'aib berpindah pada masalah muamalah sehari-hari yang berkenaan dengan kejujuran dan keadilan. Adalah hal yang terkenal pada penduduk Madyan bahwa mereka mengurangi timbangan dan mereka tidak memberikan hak-hak manusia. Ini adalah suatu kehinaan yang menyentuh kesucian hati dan tangan sebagaimana menyentuh kesempurnaan harga diri dan kemuliaan.
Para penduduk Madyan beranggapan bahwa mengurangi tim�bangan adalah salah satu bentuk kelihaian dan kepandaian dalam jual-beli serta bentuk kelicikan dalam mengambil dan membeli. Kemudian nabi mereka datang dan mengingatkan bahwa hal tersebut merupakan hal yang hina dan termasuk pencurian. Nabi Syu'aib memberitahukan kepada mereka bahwa beliau khawatir jika mereka meneruskan perbuatan keji itu niscaya akan turun kepada mereka azab di mana manusia tidak akan dapat menghindar dari siksaan itu. Perhatikanlah bagaimana campur tangan Islam melalui Nabi Syu'aib yang diutus kepada manusia di mana ia memperhatikan persoalan jual-beli dan mengawasinya:
"Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan." (QS. Hud: 85)
Nabi Syu'aib meneruskan misi dakwahnya. Beliau mengulang-ulangi nasihatnya kepada mereka dengan cara yang baik dan mengajak ke jalan yang baik, tidak ke jalan yang buruk; beliau menghimbau kepada mereka untuk menegakkan timbangan dengan keadilan dan kebenaran dan mengingatkan mereka agar jangan merampas hak-hak orang lain. Merampas hak-hak orang lain itu tidak terbatas pada jual-beli saja, namun juga berhubungan dengan perbuatan-perbuatan lainnya; beliau memerintahkan mereka untuk menegakkan timbangan keadilan dan kejujuran. Demikianlah seruan dari agama tauhid dan akidah tauhid di mana ia selalu menyuarakan kejujuran dan keadilan.
Agama selalu memerintahkan manusia untuk menjalin kerjasama sesama mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang bijaksana dan baik, baik menyangkut hubungan kerja, hubungan pribadi maupun hubungan lainnya. Al-Qur'an al-Karim mengatakan: "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka. "Dan kata as-Syai' (sesuatu) dalam ayat tersebut diucapkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan yang bersifat non-materi (rohani) di mana masuk dalam katagori itu perbuatan-perbuatan dan hubungan-hubungan yang menghasilkan. Al-Qur'an melarang segala bentuk kelaliman, baik kelaliman berkenaan dengan menimbang buah-buahan atau sayur-sayuran maupun kela�liman dalam bentuk tidak memberikan penghargaan terhadap usaha manusia dan pekerjaan mereka. Sebab, kelaliman terhadap manusia akan menciptakan suasana ketidakharmonisan yang berakibat pada timbulnya penderitaan, sikap putus asa, dan sikap tidak peduli, sehingga pada akhirnya hubungan sesama manusia berjalan tidak harmonis dan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan. Oleh katrena itu, Al-Qur'an mengingatkan agar jangan sampai ada manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi:
"Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dart Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorangpenjaga atas dirimu." (QS. Hud: 85-86)
Yang dimaksud al-'Atsu ialah sengaja membuat kerusakan dan bertujuan untuk membuat kerusakan. Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi; janganlah kalian sengaja untuk menciptakan keonaran di muka bumi. Apa yang ada di sisi Allah SWT adalah hal yang terbaik buat kalian jika kalian benar-benar ber�iman. Kemudian Nabi Syu'aib memberitahu kepada mereka bahwa ia tidak memiki sesuatu kepada mereka; ia tidak dapat menguasai mereka tidak juga ia selalu mengawasi mereka. Beliau hanya sekadar seorang rasul atau utusan untuk menyampaikan ajaran Tuhannya:
"Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu. " (QS. Hud: 86)
Dengan cara yang demikian, Nabi Syu'aib menjelaskan kaumnya bahwa masalah yang mereka hadapi saat ini sangat penting dan sangat serius, bahkan sangat berat. Beliau memberitahu mereka akibat yang bakal mereka terima jika mereka membuat kerusakan. Selesailah bagian pertama dari dialog Nabi Syu'aib bersama kaumnya. Nabi Syu'aib telah mengawali pembicaraan dan kaumnya mendengarkan. Kemudian beliau berhenti dari pembicaraannya dan sekarang kaum membuka pembicaraan:
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, apakah agamamu yang menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang hand berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal " (QS. Hud: 87)
Para penduduk Madyan yang kafir mereka biasa merampok dan menyembah al-Aikah, yaitu pohon dari al-Aik yang dikelilingi oleh dahan-dahan yang berputar di sekelilingnya. Mereka termasuk orang-orang yang menjalin hubungan sesama manusia dengan cara-cara yang sangat keji. Mereka suka mengurangi timbangan; mereka mengambil yang lebih darinya dan tidak menghiraukan kekurangannya. Perhatikanlah semua itu dalam dialog mereka bersama Syu'aib. Mereka berkata, "wahai Syu'aib apakah agamamu yang memerintahkanmu...?" Seakan-akan agama ini mendorong Syu'aib dan membisikinya serta memerintahnya sehingga ia menaati tanpa pertimbangan dan pemikiran. Sungguh Syu'aib telah berubah dengan agamanya itu menjadi alat yang bergerak dan alat yang tidak sadar. Demikianlah celaaan dan tuduhan keji yang dialamatkan oleh kaum Nabi Syu'aib kepadanya. Agama Syu'aib telah membuatnya gila dan membuatnya nekat untuk memerintahkan mereka meninggalkan apa yang selama ini mereka sembah dan disembah oleh kakek-kakek mereka. Kakek-kakek mereka telah menyembah tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan sementara agama Syu'aib memerintahkan mereka untuk hanya menyembah Allah SWT. Kenekatan model apa dari Syu'aib ini?
Dengan ejekan dan penghinaan ini, Nabi Syu'aib menghadapi dialog yang terjadi dengan mereka. Kemudian mereka kembali bertanya-tanya dengan penuh keheranan dan dengan nada mengejek: "Apakah agamamu yang menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami." Tidakkah engkau sadar wahai Syu'aib bahwa agamamu ingin mencampuri keinginan kita dan cara kita menggunakan harta kita? Apakah hubungan keimanan dan salat dengan muamalah materi?
Dengan pertanyaan ini, kaum Nabi Syu'aib mengira bahwa mereka mencapai suatu tingkat kecerdasan. Mereka mengemukakan di hadapannya problem keimanan, dan mereka mengingkari adanya keterkaitan antara perilaku manusia dan muamalah mereka serta perekonomian mereka. Ini adalah masalah yang klasik; ini adalah usaha untuk memisahkan antara ekonomi dan Islam di mana setiap nabi justru di utus untuknya meskipun nama-nama mereka berbeda-beda; ini adalah masalah kuno yang diungkap oleh kaum Nabi Syu'aib di mana mereka mengingkari bahwa agama turut campur dalam kehidupan sehari-hari mereka, perekonomian mereka dan cara mereka menggunakan harta mereka. Mereka menganggap bahwa menginfakkan harta atau menggunakannya atau menghambur-hamburkannya adalah suatu yang tidak berhubungan dengan agama. Hal itu menyangkut kebebasan pribadi manusia. Bukankah itu hartanya yang khusus lalu mengapa agama turut campur di dalamnya?
Demikianlah pemahaman kaum Nabi Syu'aib kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Syu'aib. Kami kira pemahaman demikian sedikit atau banyak tidak berbeda dengan pemahaman banyak masyarakat di zaman kita sekarang mereka menganggap bahwasannya Islam tidak memiliki kaitan dengan kehidupan pribadi manusia dan kehidupan perekonomian mereka. Oleh karena itu, manusia dapat menggunakan harta mereka sesuai dengan kemauan mere�ka: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal."
Mereka ingin mengatakan kepada Nabi Syu'aib, seandainya engkau seorang yang bijaksana dan memiliki pemikiran yang matang niscaya engkau tidak akan mengatakan apa yang telah engkau katakan. Mereka kembali mengejek Nabi Syu'aib dan merendahkan dakwahnya. Seandainya Anda bertanya kepada kaum Nabi Syu'aib tentang pemahaman agama mereka maka mereka pasti mengingkari bahwa agama adalah sebagai sistem dalam kehidupan yang menjadikan hidup lebih mulia, lebih suci, lebih adil dan lebih pantas manusia untuk menjabat sebagai khalifatullah di muka bumi; seandainya Anda bertanya kepada mereka tentang agama niscaya mereka memberitahumu bahwa ia hanya berupa kumpulan nilai-nilai rohani yang baik yang tidak mewarnai kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman seperti ini, agama hanya sekadar hiasan. Ini adalah pemahaman yang menggelikan karena Allah SWT mengutus para nabi dan ajaran-ajaran yang mereka bawa bukan untuk perhiasan dan main-mainan. Maha Suci Allah SWT dari semua itu. Allah SWT mengutus para nabi-Nya dengan membawa sistem baru dalam kehidupan, yaitu sistem yang mencakup nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran yang itu semua tidak akan bermakna jika tidak berubah menjadi suatu sistem dalam kehidupan secara umum dan mengatur kehidupan secara khusus. Dengan pemahaman seperti inilah agama menjadi mulai dan agama menjadi benar adanya. Dan dengan asumsi seperti ini, kita memahami seberapa jauh campur tangan agama dalam persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari: dimulai dari hubungan-hubungan cinta sampai undang-undang perkawinan, bahkan cara mengambil keputusan hidup sampai sistem dalam menginfakkan uang dan menggunakannya, juga sistem dalam cara menggunakan dan mendistribusikan kekayaan dan sebagainya. Jika manusia memahami agama seperti ini makajadilah agama sesuatu kebenaran. Dan kalau tidak, agama laksana puing-puing saja.
Nabi Syu'aib mengetahui bahwa kaumnya mengejeknya karena mereka menganggap agama tidak turut campur dalam kehidupan sehari-hari. Namun, beliau menghadapi semua itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang karena beliau yakin apa yang beliau bawa adalah kebenaran. Beliau tidak peduli dengan ejekan mereka dan tidak tersinggung dengannya dan tidak mempersoalkan hal itu; beliau memberi pengertian kepada mereka bahwa beliau berada di atas kebenaran dari Tuhannya; beliau adalah seorang nabi yang mengetahui kebenaran; beliau tidak melarang mereka untuk meninggalkan sesuatu yang di balik larangan itu mendatangkan keuntungan pribadi buatnya; beliau tidak ingin menasihati mereka dalam kejujuran agar pasar menjadi sepi dan karenanya beliau mengambil manfaat; beliau hanya sekadar seorang nabi di mana dakwah setiap nabi tergambar dalam ungkapan yang singkat:
"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. " (QS. Hud: 88)
Yang beliau inginkan hanya al-Islah (usaha membuat perbaikan). Demikanlah kandungan dan inti dakwah para nabi yang sebenarnya. Mereka adalah al-Muslihun, yaitu orang-orang yang mem�buat perbaikan; mereka memperbaiki akal, memperbaiki hati dan memperbaiki kehidupan yang umum dan kehidupan yang khusus:
"Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, bagaimana pikiranku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.'" (QS. Hud: 88)
Setelah Nabi Syu'aib menjelaskan tujuan-tujuannya kepada mereka dan menyingkapkan kebenaran dakwahnya, beliau mulai mengotak-atik akal-akal rnereka; beliau mengungkapkan kepada mereka bagaimana pergulatan orang-orang sebelum mereka dengan para nabi sebelumnya, yaitu kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh, dan kaum Nabi Luth yang masa mereka ddak jauh dengan masa Nabi Syu'aib. Beliau mulai berdialog dengan mereka dan mengingatkan mereka bahwa sikap penentangan mereka justru akan mendatangkan siksaan bagi mereka. Nabi Syu'aib mengingatkan mereka bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan kebenaran:
"Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpah kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun dari Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. " (QS. Hud: 89-90)
Usai Nabi Syu'aib berdakwah kepada Allah SWT dan menjelaskan al-ishlah (usaha memperbaiki masyarakat) dan mengingatkan mereka bahaya penentangan serta menakut-nakuti mereka dengan menceritakan kembali siksaan yang diterima orang-orang yang berbohong sebelum mereka. Meskipun demikian, Nabi Syu'aib tetap membukakan pintu pengampunan dan pintu taubat bagi mereka. Beliau menunjukkan kepada mereka kasih sayang Tuhannya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun kaum Nabi Syu'aib memilih azab. Kekerasan hati mereka dan keinginan mereka untuk mendapatkan harta yang haram serta rasa puas dengan sistem yang mengatur mereka, semua itu menyebabkan mereka menolak kebenaran:
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu.'" (QS. Hud: 91)
Kami tidak memahamimu. Engkau adalah seorang yang mengacau; engkau mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti:
"Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami." (QS. Hud: 91)
Beliau dikatakan sebagai orang yang lemah karena orang-orang fakir dan orang-orang yang rrienderita adalah orang-orang yang beriman padanya, sedangkan orang-orang kaya dan para pembesar telah menentang mereka. Demikianlah pertimbangan umumnya manusia yang tidak memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi kebenaran dakwah Nabi Syu'aib di mana beliau dianggap sebagai orang yang lemah:
"Kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami akan merajammu."(QS. Hud: 91)
Seandainya kalau bukan karena keluargamu dan kaummu dan orang-orang yang mengikutimu niscaya kami akan menggali suatu lubang dan kami akan bunuh kamu dilubang itu dengan cara melempari kamu dengan batu:
"Sedang kamu pun bukanlah seorangyang berwibawa di sisi kami." (QS. Hud: 92)
Kaum Nabi Syu'aib berpindah dari cara mengejek pada cara menyerang. Nabi Syu'aib telah menyampaikan bukti kepada mereka setelah mereka mengejeknya, lalu mereka mengubah cara mereka berdialog. Mereka memberitahunya bahwa mereka tidak memahami apa yang beliau katakan dan mereka melihat bahwa Nabi Syu'aib sebagai orang yang lemah dan hina. Dan seandainya kalau bukan karena mereka takut (kasihan) kepada keluarganya niscaya mereka akan membunuhnya. Mereka menampakkan kebencian kepada Nabi Syu'aib dan ingin sekali untuk membunuhnya kalau bukan karena alasan-alasan yang berhubungan dengan keluarganya. Menghadapi ancaman itu, Nabi Syu'aib tetap menunjukkan sikap lembutnya lalu beliau bertanya kepada mereka dengan maksud untuk menggugah kesekian kalinya akal mereka:
"Syu 'aib menjawab: 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah. " (QS. Hud: 92)
Apakah cukup rasional jika mereka membayangkan hal tersebut? Mereka melupakan hakikat kekuatan yang mengatur alam. Sesungguhnya hanya Allah SWT Yang Maha Mulia dan Maha Kuat. Seharusnya mereka mengingat hal itu; seharusnya seseorang tidak takut kepada apapun selain Allah SWT dan tidak membandingkan kekuatan di alam wujud ini dengan kekuatan Allah SWT. Hanya Allah SWT Yang Kuat dan hanya Dia yang mengatur hamba-hamba-Nya.
Tampak bahwa kaum Nabi Syu'aib mulai kesal dan semakin kesal dengannya, lalu berkumpullah para pembesar kaumnya:
"Pemuka-pemuka dari kaum Syu 'aib yang menyombongkan diri berkata: 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan dengan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.'" (QS. al-A'raf: 88)
Mereka menggunakan tahap baru dengan cara mengancam Nabi Syu'aib; mereka mengancamnya untuk membunuh dan mengusir dari desa mereka; mereka memberi pilihan kepada Nabi Syu'aib antara terusir dan kembali kepada agama mereka yang menyembah pohon-pohon dan benda-benda mati. Nabi Syu'aib memberitahu kepada mereka bahwa masalah kembalinya ia ke agama mereka adalah masalah yang tidak berhubungan dengan masalah-masalah yang disebutkan dalam perjanjian. Sungguh Allah SWT telah menyelamatkan beliau dari agama mereka lalu bagaimana beliau kembali lagi padanya? Beliau yang mengajak mereka pada agama tauhid lalu bagaimana beliau mengajak mereka untuk kembali pada kesyirikan dan kekufuran? Beliau mengajak mereka dengan cara yang lembut dan kasih sayang sementara mereka mengancamnya dengan kekuatan.
Demikianlah pertentangan antara Nabi Syu'aib dan kaumnya semakin berlanjut. Nabi Syu'aib memegang amanat dakwah untuk menghadapi para pembesar, para pendusta, dan para penguasa kaumnya. Akhirnya, Nabi Syu'aib mulai mengetahui bahwa mereka tidak lagi memiliki harapan karena mereka telah berpaling dari Allah SWT:
"Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya pengetahuan Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan). Sesungguh�nya aku pun menunggu bersama kamu." (QS. Hud: 92-93)
Nabi Syu'aib berlepas diri dari mereka. Mereka telah berpaling dari agama Allah SWT bahkan telah mendustakan nabi-Nya dan menuduhnya bahwa ia tersihir dan seorang pembohong. Maka, setiap orang hendaklah melakukan apa saja yang diinginkannya dan hendaklah mereka menunggu azab Allah SWT. Kemudian pergulatan antara Nabi Syu'aib dan kaumnya berakhir adanya fase baru. Mereka meminta kepada Nabi Syu'aib untuk mendatangkan azab dari langit jika beliau termasuk orang-orang yang benar. Dengan nada mencibir dan menantang, mereka berkata: "di mana azab itu, di mana siksaan yang dijanjikan itu? Mengapa terlambat datang?"
Mereka mengejek Nabi Syu'aib dan beliau dengan tenang menunggu datangnya azab Allah SWT. Allah SWT mewahyukan kepada beliau agar keluar bersama orang-orang mukmin dari desa tersebut. Akhirnya, Nabi Syu'aib keluar bersama para pengikutnya dan datanglah azab Allah SWT:
"Dan takkala datang azab Kami. Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari kami, dan orang-orang lalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (QS. Hud: 94-95)
Ia adalah teriakan sekali saja satu suara yang datang kepada mereka dari celah-celah awan yang menyelimuti. Mula-mula mereka barangkali bergembira karena membayangkan itu akan membawa hujan tetapi mereka dikagetkan ketika datang kepada mereka siksaan yang besar pada hari yang besar.
Selesailah masalah ini. Mereka menyadari bahwa teriakan itu membawa bencana buat mereka; teriakan itu menghanguskan setiap makhluk yang ada di dalam negeri itu. Mereka tidak mampu bergerak dan tidak mampu menyembunyikan diri dan tidak pula mereka dapat menyelamatkan diri mereka.http://quran.al-shia.org/



Beliau adalah Syu'aib bin Mikail bin Yasyjar bin Madyan salah satu putra sang kekasih Allah, Ibrahim as. Ibunya adalah putri nabi Luth as., dan diangkat sebagai nabi setelah Luth. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا قَوْمُ لُوْطٍٍ مِنْكُمْ بِبَعِيْدٍ 

"Dan tidaklah kaum Nabi Luth jauh dari kalin." Dan sebelum datangnya risalah Nabi Musa as. Karena Allah Ta'ala menyebutkan nama Nuh, kemudian saleh, Luth, lalu Syua'ib. Sebagaimana firman-Nya: 

"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya," (QS. Al-A'raaf: 103) Ayat ini menunjukkan bahwa Syua'ib diutus sebelum datangnya nabi Musa dan Harun as. Sebagian ulama telah melakukan kesalahan dalam hal ini, karena mereka menyangka bahwa zaman Nabi Syu'aib setelah Musa beberapa abad. Dan ini bertentangan dengan nash Al-Qur'an. Masalah ini menjadi samar-samar atas mereka antara Syu'aib dengan Sya'yan sebagai salah seorang nabi yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur'an. Sehingga mereka menyangka bahwa Sya'yan adalah Syu'aib. Dan kesalahan ini telah diingatkan oleh sejumlah ulama kompeten. 

1) Dimanakah tempat tinggal penduduk Madyan 

Penduduk Madyan adalah masyarakat Arab yang tinggal di negeri Hijaz, dekat teluk Aqabah dari arah Utara. Thabari berkata bahwa jarak antara Mesir dan Madyan delapan hari perjalanan. Sepertinya wilayat tersebut berada di suatu tempat yang sekarang bernama Ma'aan, di sisi Selatan Palestina. Garis keturunan Madyan kembali kepada salah satu putra Ibrahim, Madyan bin Ibrahim, yang di dalam kitab Taurat disebut Madyaan, karena itulah nama suku tersebut dinisbatkan kepadanya. Madyan bin Ibrahim hidup di tengah bangsa arab ketika itu, memiliki keluarga sendiri dalam jumlah besar sehingga disebut Madyan. Dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah saw. Bersabda: 

أَرْبَعٌ مِنَ اْلعَرَبِ: هُوْدٌ، وَصَالِحٌ، وَشُعَيْبٌ، وَنَبِيُّكَ يَا أَبَا ذَرِّ 

"Empat orang berasal dari bangsa Arab; Huud, Saleh, Syu'aib dan nabimu, wahai Abu Dzar!" 

2) Dakwah Nabi Syu'aib as. Kepada kaumnya: 

Profesi masyarakat Madyan adalah pedagang dan petani yang dikenal dengan kehidupannya yang mewah dan berkecukupan. Agama yang mereka anut adalah agama Ibrahim. Namun tidak lama kemudian mereka mengganti agama tersebut dan akhirnya kafir kepada Allah Azza wa Jalla, menyimpang dari jalan yang lurus dan melakukan berbagai macam kemungkaran. Di antaranya adalah berlaku curang saat menakar dan menimbang. Mereka mengurangi timbangan dan takaran dari barang-barang manusia, merusak dimuka bumi dan tidak malakukan perbaikan. 

Masyarakat Madyan adalah orang-orang kafir yang sering melakukan perampokan dan menakut-nakuti orang-orang yang melakukan perjalanan, serta menyembah pepohonan besar bernama Aekah. Mereka adalah manusia paling buruk dalam bermuamalah dengan sesama manusia, berlaku curang saat menimbang dan menakar. Mengambil yang lebih dan bayaran yang kurang. Allah Ta'ala lalu mengirim seorang dari mereka sebagai Rasul, dialah Syu'aib as. 

Nabi Syua'ib lalu menyeru mereka agar beribadah kepada Allah yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Melarang mereka melakukan perbuatan buruk dengan mengurangi timbangan dan takaran manusia, menakuti mereka yang sedang melakukan perjalanan. Sebagian dari mereka lalu menyambut seruan itu dengan beriman kepada Nabi Syu'aib, sementara sebagian lainnya tetap kafir, sehingga Allah tampakkan siksaan keras kepada mereka. 

Ishak bin Bisyr berkata, dari Juwaibir bin Dhahhaq dari Ibnu Abbas berkata, penduduk Madyan adalah kaum yang kafir dan melampau batas. Mereka terkadang duduk-duduk di pinggir jalan untuk mengganggu mereka yang jalan di jalan itu lalu mengambil harta milik mereka. Mereka adalah manusia pertama yang melakukan kejahatan tersebut: 

وَتَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُوْنَهَا عِوَجاً 

"menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." (QS. Al-A'raaf: 86) Syu'aib lalu melarang mereka melakukan kajahatan itu dan mengingatkan mereka: 

وَاذْكُرُوْا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيْلاً فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ اْلمُفْسِدِيْنَ 

"Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-A'raaf: 86) Ia juga mengingatkan mereka tentang nikmat Allah Ta'ala yang dicurahkan kepada mereka, yang jumlah sangat banyak padahal dahulu sedikit. Sembari mengingatkan mereka tentang siksaan Allah yang bisa ditimpakan keapda mereka. Sehingga ia pun membimbing dan menunjukkan kepada mereka jalan kebaikan. Sebagaimana yang ia katakan dalam kisah yang lain: 

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS. Huud: 84) 

Nabi Syu'aib terlebih dahulu melarang mereka berlaku curang karena perbuatan itu tidak layak mereka lakukan, sambil mengingatkan bahwa Allah bisa saja mencabut nikmat itu dari mereka di dunia dan siksa pedih perih di akhirat kelak: 

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (QS. Huud: 90) namun jawaban mereka kepada nabi Syu'aib adalah, agar ia mengembalikan mereka yang telah beriman bersamanya kepada akidah kaum mereka. Bila tidak, maka mereka akan mengeluarkan orang-orang itu dari kampung mereka: 

Pemuka-pemuka dan kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya." (QS. Al-A'raf: 88-89) 

Syu'aib disebut juga dengan pembicara para nabi karena kekuatan argumentasinya dalam berdebat dengan kaumnya. Dan bila Rasulullah saw. Mendengar nama Syu'aib disebut, beliau berkata: 

ذَاكَ خطِيْبُ اْلأَنْبِيَــاءِ 

"Dia adalah khathib (pembicara) para Nabi." 

3) Ancaman Nabi Syu'aib as. dan Orang-orang Beriman setelah Mereka Dikeluarkan dari Kampung Mereka: 

Ketika Nabi Syu'aib menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah dan bermuamalah dengan baik serta istiqamah di atas kebenaran, mereka serta merta menolak dan berpaling dari seruan itu. Mereka bahkan berkumpul dan mengancam Syu'iab dan orang-orang yang bersamanya akan mengusirnya dari kampungnya tidak kembali ke dalam agama yang merek anut. Syu'aib lalu berkata, "Walau pun kami membencinya? Bila kami kembali kepada agama kalian, maka kami sesungguhnya telah membuat-buat dusta kepada Allah setelah Allah menyelamatkan kami dengan hidayah-Nya kepada jalan yang lurus. Kembali kepada agama kalian bukanlah kehendak kami semata. Tapi itu terjadi bila Allah hendak menghinakan kami dan menjauhkan kami dari kebenaran yang datang dari-Nya. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kami lakukan, tapi segala sesuatu diketahui Allah yang pengetahuan-Nya meliputi langit dan bumi, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri. 

Para pembesar dari kaum Nabi Syu'aib as. lalu mengingatkan masyarakatnya supaya berhati-hati agar tidak terjerumus dalam ke dalam agama yang dibawa Syu'aib. Mereka berkata: 

لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًاً إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُوْنَ 

"Bila kalian mengikuti Syua'ib, niscaya kalian akan termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raaf: 90) "Karena ia akan menghalangi kalian dari berbuat curang saar menakar dan menimbang. Padahal cara inilah yang menambah kekayaan kalian." Mereka juga merasa aneh, bagaimana mungkin Syu'aib melarang mereka beribadah sebagaimana yang dilakukan bapak dan kakek mereka dahulu? Mereka tidak sudi bila diperintahkan berbuat adil dan jujur saat menakar dan menimbang, dan melarang mereka menggunakan harta mereka sesuai keinginan hawa nafsu mereka? Mereka mencela shalat yang ia lakukan dan menyuruhnya mereka untuk itu, seraya berkata: 

إنَّكَ لَأَنْتَ اْلحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ 

"Sesungguhnya engkau benar santun dan rasyid." (QS. Al-A'raaf: 90) Setiap saat Nabi Syu'aib datang menemui mereka dan menyampaikan argumentasinya sehingga Allah Ta'ala turunkan siksa-Nya. Mereka pun dibinasakan oleh gempa bumi yang sangat dahsyat, sehingga mereka seakan tidak pernah ada dimuka bumi. 

Setelah Allah Azza wa Jalla membinasakan penduduk Madyan dan menyelamatkan Syu'aib beserta orang-orang yang bersamanya, Ia lalu mengutusnya kepada penduduk Aikah, yaitu pohon besar yang tumbuh subur di dekat Madyan ditinggali oleh sekelompok orang dari hamba Allah Ta'ala. Ada yang berkata bahwa mereka adalah masayarakat pegunungan di pinggiran desa Madyan, dan Syu'aib adalah orang asing di tengah mereka. Penduduk Aikah juga memiliki prilaku yang sama dengan penduduk Madyan. Ketika Nabi Syu'aib melarang mereka dari perbuatan keji, mereka berkata: 

"Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta." (QS. Asy-Syu'ara: 185-186) Mereka menyangka bahwa Allah Ta'ala tidak mengutus seorang manusia sebagai pemberi petunjuk di tengah mereka. Karena mereka tidak tahu bahwa Allah Ta'ala lebih tahu kepada siapa Ia letakkan risalah-Nya. 

Kebodohan paling parah adalah ketika mereka meminta kepada Syu'aib agar dijatuhkan gumpalan dari langit –atau sepotong langit- bila ia termasuk orang yang jujur. Kebodohan mereka juga karena mereka tidak meminta agar dilimpahi hidayah kepada kebenaran. Akhirnya siksaan pedih itu pun ditimpakan kepada mereka udara sangat panas selama tujuh hari hingga air milik mereka pun panas mendidih. Setelah itu, mereka melihat kumpulan awan berarak membuat mereka bernaung di bawahnya. Tak lama kemudian hujan api pun membakar mereka. Siksa tersebut diabadikan Allah dalam firman-Nya: 

"Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar." (QS. Asy-Syu'ara: 189) 

Nabi Syu'aib Dalam Al-Qur'an 

Alla Azza wa Jalla berfirman: 

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali- kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut- nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka dan kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi". Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?"(QS al-A'raf: 85-93) 

Dalam surat Huud, Allah Ta'ala berfirman: 

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu" Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal. Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami." Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan." Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu." Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (QS. Huud: 84-95) 

Dalam surat al-Hijr, Allah Ta'ala berfirman: 

Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim,[1] maka Kami membinasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua kota[2] itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang." (QS. Al-Hijr: 78-79) 

Firman-Nya dalam surat asy-Syu'ara: 

Penduduk Aikah[3] telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu'aib berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. maka bertakwalah kepada Allah dan 'taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jnganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu". Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Syu'aib berkata: "Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan". Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." 

Dalam surat al-Ankabut, Allah Ta'ala berfirman: 

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan". Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (QS. Al-Ankabuat: 36-37) 

1) Setelah Nabi Syu'aib as. menyeru kaumnya agar beribadah kepada Allah saja dan tidak berlaku curang dengan mengurangi timbangan dan takaran, ia berkata, "Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai orang baik-baik." Maksudnya adalah, bahwa kalian memiliki kekayaan cukup banyak yang membuat kalian tidak harus berlaku curang. Atau, saya melihat kalian dengan curahan nikmat Allah yang sangat banyak, maka adalah hak nikmat tersebut bila kalian tidak melakukan apa yang kalian perbuat sekarang. Beliau lalu mengancam mereka dengan azab Allah bila mereka menentang dan keluar dari batasan-batasan-Nya. Ia berkata: 

وَإنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيْطٍ 

"Sesungguhnya saya sangat takut atas kalian dengan siksaan pada hari yang meliputi itu." Ia mengancam mereka dengan siksaan yang akan meliputi mereka, sehingga tidak seorang pun yang dapat keluar dan menyelamatkan diri darinya. Yang meliputi adalah bagian dari sifat hari, maksudnya adalah sifat dari siksaan itu. Ini adalah kiasan yang masyhur. Sebagaimana firman-Nya: 

هَذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ 

"Ini adalah hari sulit." Ada yang berkata bahwa kalimat itu adalah ancaman bagi siapa saja yang memperolok-olok adanya kebinasaan di dunia yang mengitari dan meliputi mereka. Sebagaimana orang yang membawa lingkaran dengan segala yang ada di dalamnya, sehingga mereka mendapatkan kebinasaan dari berbagai penjuru. Ini adalah bahasa bombastis dalam mengancaman. Sebagaimana firman-Nya: 

وَأُحِيْطَ بِثَمَرِهِ 

" Dan harta kekayaannya dibinasakan." (QS. Al-Kahfi: 42) Ada yang berkata bahwa kalimat tersebut adalah ancaman tentang siksa akhirat. Karena itu adalah hari ketika siksaan itu diturunkan dan meliputi orang-orang yang disiksa, sehingga tidak seorang pun yang luput dari mereka. 

Setelah Syu'aib menyuruh mereka untuk kedua kalinya agar memenuhi timbangan dan takaran, berlaku adil dan tidak mengambil harta manusia dengan culas, ia berkata: 

بَقِيَّتُ اللهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ 

"Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Huud: 86) Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-A'raaf: 

ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ 

"Yang demikian itu lebih baik bagi kalian bila kalian mengetahui." Maksudnya adalah, bahwa ganjaran dari Allah lebih baik bagi mereka daripada bila mereka berbuat curang, culas dan merugikan orang lain. Disebutkan disini ganjaran pahala sebagai yang tersisa, karena itulah sesungguhnya yang tersisa bagi pemiliknya. Atau, bahwa apa yang tersisa bagi mereka yang halal setelah mereka tidak lagi berbuat curang dan culas dalam menimbang dan menakar, lebih baik daripada berlaku curang. Karena seseorang yang mengenal orang lain dengan kejujuran dan amanahnya serta tidak berkhianat, maka mereka akan percaya padanya dan kembali membeli kepadanya sehingga pintu rizkinya pun semakin terbuka luas. Demikian pula sebaliknya. Bila mereka mengenalnya sebagai sosok yang curang dan khianat, maka mereka akan berpaling dan tidak bergaul dengannya, sehingga pintu rezkinya pun tertutup. 

Karena itu, taat kepada Allah Ta'ala senantiasa bermanfaat bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Memberinya keluasan rezki dan kepercayaan dari manusia. Sesuatu yang mungkin tidak diperoleh orang lain. Seorang pedagang jujur yang menjadikan modalnya adalah kepercayaan dan kejujuran, maka ia bisa hidup atas dari orang lain harta, berupa limpahan harta, kemuliaan dan penghormatan. 

Adapun pedagang dusta, maka dalam waktu singkap sifat dan prilakunya akan segera tersingkap. Pekerjaannya menjadi rusak. Bila pun ia bisa hidup dalam setahun, maka ia takkan dapat bertahan hidup selama beberapa tahun. Karena itu, apa yang tersisa pada Allah, berupa ganjaran pahala dan kebaikan lebih baik bagi manusia di dunia dan akhirat. Semoga ini juga merupakan pelajaran berharga bagi para pedagang kita yang terbiasa berdusta, curang dan menipu. 

Adapun firman Allah Ta'ala: 

إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ 

"Bila kalian termasuk orang-orang yang beriman." Ini sesuai dengan tuntutan iman, sebagaimana yang telah kita bahas pada kisah Syu'aib dalam surat al-A'raf. Firman Allah Ta'ala: 

وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ 

"Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu". (QS. Huud: 86) Saya tidak mengutusmu untuk menjaga apa yang kalian kerjakan lalu membalasnya. Tapi saya mengutusmu untuk menyampaikan risalah ini dan mengingatkan manusia kepada kebaikan. Atau, saya tidak sanggup menjaga nikmat yang Allah berikan kepada kalian apabila kalian mengingkari nikmat itu." Kalimat itu sekaligus sebagai ancaman kepada kaumnya, bahwa nikmat Allah segera lenyap bila mereka tetap berada dalam kemaksiatan dan keluar dari batasan-batasan Allah dan ajaran-Nya. 

2) Allah Ta'ala berfirman: 

"Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami." (QS. Huud: 86) 

Mereka membalas seruan dan ajakan Nabi Syu'aib as. dengan kata-kata hinaan dan makian. Mereka seakan hendak mengatakan bahwa orang yang menyuruhmu meninggalkan berhala sebagai sesembahan adalah ahlul batil, dan orang yang tidak menyuruhmu melakukan hal tersebut adalah penyeru yang berakal dan cerdas. Tidak memerintahkanmu kepada sesuatu yang dapat mencerdaskanmu, dan tak ada yang ia perintahkan selain perkara yang hina dan sarat dengan godaan syetan, yaitu shalat yang engkau lakukan pada siang dan malam hari. 

Bagi mereka, aktivitas tersebut hanya dilakukan oleh orang-orang gila dan terpengaruh oleh bisikan syetan. Seperti itulah hinaan dan ejekan mereka. Pertama: Kepada Nabi Syu'aib karena tata cara ibadah yang dilakukannya. Kedua; kepada apa yang ia perintah dan larang. Mereka ejekan mereka terhadap perintah untuk shalat. Karena mereka mengingkari bahwa perintah itu adalah wahyu dari langit . 

Ada kesamaan sangat dekat antara tokoh-tokoh yang sombong dari kaum Nabi Syu'aib as. dan kelompok pemuda kita dewasa ini, yang tidak hanya memperlihatkan sikap negatif kepada orang-orang yang shalat saja, tapi mereka juga menghina dan mencemooh shalat yang mereka lakukan, mengejek cara ruku' dan sujud yang mereka lakukan. Bahkan menjelek-jelekkan orang yang meletakkan keningnya di atas lantai saat shalat, atau wajahnya terkena debu sebagai bukti pengakuan kepada Yang Maha Indah. Pada waktu yang sama mereka membiarkan diri mereka tunduk sujud kepada tuhan-tuhan pemilik kekuasaan. Karena menginginkan apa yang ada di tangan mereka berupa harta dunia, atau karena takut pada apa yang mereka miliki berupa kekuasaan, kekuatan dan kekejaman . 

Sementara itu mereka menganggap buruk bila harus menundukkan diri di hadapan Sang Khaliq yang memiliki kekuasaan Maha Besar tak terbatas, Pemilik langit dan bumi. Mereka membiarkan diri-diri mereka terhinakan di hadapan hamba yang tidak dapat mendatangkan mudharat dan manfaat, kehidupan dan kamatian serta kebangkitan. Mereka malah membolehkan sekelompok orang yang menghinakan diri mereka di hadapan kuburan orang-orang shaleh sebagai perantara agar dapat menolak mudharat dan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Na'udzu billahi. 

Sesungguhnya kita berada dalam dua arus besar yang saling kontradiktif; arus atheisme; mengingkari adanya Tuhan yang harus dipatuhi seluruh makhluk dan setiap jiwa menghinakan diri pada-Nya. Yang kedua adalah arus Kemusyrikan yang kini merangsek masuk ke dalam tubuh kaum Muslimin sebagaimana menimpa manusia selain mereka. Sehingga iman mereka menyatu dengan kebatilan dan kemusyrikan. Mereka adalah kelompok yang mengkultuskan orang-orang shaleh sehingga mereka meminta kepadanya, sesuatu yang sesungguhnya hanya diminta hanya kepada Allah Ta'ala. Mereka juga melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak layak mereka lakukan. Kedua jalan; penyimpangan atheisme dan kemusyrikan adalah kezaliman yang sangat jelas dan keluar dari batas kewajaran. 

Adapun atheisme, maka itu adalah pengingkaran terhadap apa yang menjadi milik Allah Ta'ala yang terdapat dalam ayat-ayat dan petunjuk yang terdapat pada diri setiap manusia dan alam raya. Semua itu sesungguhnya sangat jelas dari sekedar disebutkan dan tak dapat dihitung. Namun kemusyrikan, maka itu adalah menyamakan makhluk sebagai pencipta, hamba dengan Rabb, yang fakir tak berdaya dengan Yang Maha Kaya, atau antara yang dimiliki dan yang memiliki. 

Kedua karakter ini tentu sangat bertolak belakang. Yang pertama melampaui batas untuk meraih kemuliaan sehingga mengingkari ketundukannya kepada Allah Yang Esa, dan yang kedua menghinakan kemanusiaannya sehingga ia tunduk patuh kepada hamba dari hamba-hamba Allah Ta'ala. Bahkan mungkin saja ia tam'anu dengan imtihaniha terhadap dirinya sendiri sehingga ia tunduk patuh kepada batu dan kayu yang ia pahat dengan kedua tangannya sendiri. Kita berlindung kepada Allah dari cara berlebihan dan melampaui batas ini, berlindung kepada-Nya dari kebodohan seseorang terhadap dirinya sendiri, melupakan Penciptanya yang selama ini memberinya rezki dan kehidupan. Sebagaimana kita berlindung kepada-Nya dari ketundukan manusia kepada manusia, dan dari peribadatan manusia kepada makhluk sesamanya. 

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Ali Imran: 64) 

Dan firman-Nya: 

أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ 

Sebagai tambahan atas firman-Nya: 

مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا 

"Apa yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya adalah, bahwa kami berhak melakukan apa saja pada harta benda yang kami miliki; dengan berlaku curang, merugikan orang lain dan sebagainya. Mereka tidak peduli pada seruan Nabi Syu'aib as. yang menyuruh mereka meninggalkan berhala sebagai sesembahan dan berlaku sesuka hati dan hawa nafsu mereka terhadap harta yang mereka miliki saat berjual beli, dan menganggap baik keburukan yang mereka perbuat. 

Allah Ta'ala berfirman: 

إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ 

"Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Mereka ingin mengatakan bahwa Syu'aib berada pada puncak tertinggi dari kebodohan yang ia miliki. Mereka sengaja mengucapkan kalimat itu dengan maksud sebaliknya sebagai ejekan. Sebagaimana dikatakan kepada orang yang rakus dan hina. Maksudnya adalah, bahwa engkau dikenal di tengah kaummu sebagai orang yang santun dan berakal, lalu mengapa engkau menyuruh mereka meninggalkan agama yang mereka anut dari bapak-bapak dan kakek mereka, atau meninggalan pekerjaan yang jutru mendatangkan kekayaan melimpah ruah?" 

Mereka tidak sadar bahwa ar-Rusyd (berakal) adalah pengetahuan seseorang kepada Tuhannya, dan bersyukur pada-Nya atas limpahan nikmat yang dicurahkan kepadanya. Ia kemudian menempatkan dirinya sesuai keinginan Allah Azza wa Jalla. Adapun yang mereka lakukan; menyembah patung, memakan harta manusia secara batil, semua itu tidak berhubungan sedikit pun dengan sifat ar-Rusyd. Tapi ar-Rusyd adalah sifat yang diserukan sang Nabi kepada mereka, dan mendorong mereka agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. 

3) Allah Ta'ala berfirman: 

"Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Huud: 88) 

Nabi Syu'aib as. meminta kepada kaumnya agar menyampaikan padanya bila ia berada di atas jalan kebenaran, hidayah dan kenabian dari Tuhannya. Ia limpahkan kepadanya rezki yang cukup, dan tidak butuh upah dari manusia sebagai balasan atas hidayah dan ajaran Allah yang ia sampaikan kepada mereka. Ia sama sekali tidak ingin berselisih dengan kaumnya mengenai apa yang ia larang bagi mereka, sehingga membuatnya dapat terpengaruh. Tapi yang ia inginkan hanya melakukan perbaikan sesuai dengan kemampuannya, dan tidak bersandar pada siapa pun selain kepada Allah Ta'ala semata. Dialah Allah yang senantiasa menyertainya dan menyingkirkan darinya berbagai rintangan. Hanya kepada-Nya ia kembali dan berserah diri. 

Nabi Syu'aib as. meminta kepada kaumnya agar memberitahunya bila sifat-sifat yang diserukannya itu sesuai dengan mereka, maka hendaklah mereka mengatakan hal tersebut. Ia telah berbicara kepada mereka dengan bahasa yang tidak tajam karena sifat kasih terhadap mereka. Ia seakan hendak mengatakan bahwa sifat-sifat (buruk) itu tidak pernah sesuai dengan mereka, kapan pun itu. 

Pada saat tertentu seseorang yang diberi Allah ilmu dan hidayah, maka ia akan berada di atas jalan kebenaran dari Tuhannya. Dilimpahkannya kepadanya rizki yang baik, sehingga ia dapat hidup melalui hasil karya tangannya tanpa meminta upah sedikit pun dari kaumnya atas dakwah yang ia sampaikan kepada mereka. Ia juga tidak mungkin melakukan sesuatu yang sejalan dengan hawa nafsu mereka, sedang ia telah melarang malakukan hal tersebut; mengurangi timbangan, takaran dan sebagainya. Ia beriman pada apa yang ia serukan, sebagai tauladan yang baik dalam berpegang teguh kepada keutamaan dan kemuliaan, serta jauh dari berbagai keburukan. Beginilah sifat dan prilaku seorang Dai yang jujur. Karena itu, Allah Ta'ala mengingatkan kita dalam firman-Nya: 

"Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Yasin: 21) Selama ia tidak menghendaki balasan atau upah apapun dari apa yang diserukannya, percaya atas apa yang ia serukan, meyakini kebenarannya, tidak menghendaki apapun selain memperbaiki kaumnya sesuai kemampuannya sebagaimana kondisi para Rasul dan dakwah yang ia serukanya, maka tidak pantas bila apa yang ia berikan dibalas dengan cemoohan dan penghinaan. Tapi seharusnya dibalas dengan penghargaan dan penghormatan. 

Nabi Syu'aib as. mengingatkan bahwa agar berbagai kesulitan yang mereka rasakan tidak justru membuat mereka bermaksiat kepada Allah dan keluar dari aturan-aturan-Nya, sehingga ditimpakan kepada mereka siksaan sebagaimana yang terjadi pada kaum sebelumnya yang mendustakan Rasul-rasul-Nya. Ia seakan berkata kepada mereka, "Jadilah kalian manusia yang berakal, dapat berfikir, dan menimbang suatu perkaran dengan timbangan yang penuh hikmat dan adil. Lihat dan perhatikanlah dakwah yang saya serukan, apakah landasannya adalah syahwat dan hawa nafsu, ataukah kemashlahatan dan keinginan meraih redha Allah Ta'ala. Janganlah kalian memperturutkan hawa nafsu seruan balas dendam, karena hal itu akan menjerumuskan kalian ke dalam lumpur dosa yang tiada bertepi." 

Ketika kaum Nabi Nuh as. mendustakan Rasul-rasul yang datang kepada mereka, Allah Ta'ala lalu menenggelamkan mereka dengan banjir besar sebagai peringatan bagi manusia. Demikian pula yang terjadi pada kaum Nabi Huud ketika mereka berpaling dari perintah Allah dan keluar dari aturan-aturan-Nya. Ia kemudian mengirimkan angin dingin menusuk tulang dalam beberapa hari yang membinasakan, agar mereka rasakan kehinaan di dunia dan akhirat. Lihatlah pula kaum Nabi Tsamud ketika Allah ingin memberi petunjuk kepada mereka, namun mereka lebih menyukai kesesatan. Mereka akhirnya dibinasakan dengan sambaran petir yang mengbinasakan sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat. 

Allah Ta'ala lalu berkata kepada mereka: 

وَمَا قَوْمُ لُوْطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيْدٍ 

"Dan tidaklah jauh antara kaum Nabi Luth dengan kalian." Maksudnya adalah, bahwa orang-orang yang dibinasakan itu sangat dekat pada kalian, sehingga kalian harus menjadikannya sebagai pelajaran berharga dan senantiasa mengingat apa yang terjadi pada diri mereka. Mereka lalu diperintahkan agar memohon ampun dan bertaubat kepada Allah, karena sesungguhnya Ia Maha Pengasih bagi setiap hamba yang memohon ampun kepada-Nya, Maha cinta kepada siapa saja yang kembali kepada-Nya. 

4) Allah Ta'ala berfirman: 

قَالُوْا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيْراً مِمَّا تَقُوْلُ 

"Mereka berkata, "Wahai Syu'aib, kami sungguh tidak paham apa yang engkau katakan." Adapun jawaban kaumnya setelah itu adalah kelembutan yang berlebihan, adab dan sopan santun yang teramat sangat setelah ia tunjukkan kepada mereka bukti kebenaran dakwah yang diserukannya disertai ancaman siksaan-Nya bila membangkang. Namun yang mereka katakan adalah, "Kami tidak banyak memahami apa yang engkau ucapkan." Sebagaimana ucapan kaum Quraisy kepada Muhammad, dalam firman Allah: 

Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (QS. Fushshilat: 5) Mereka mengucapkan kalimat itu sebagai penghinaan kepadanya. Seperti ketika seseorang berkata kepada kawannya yang tidak peduli pada ucapannya, "Saya tidak paham apa yang engkau katakan." Atau mereka menjadikan kata-katanya sebagai olok-olok dan ejekan tanpa manfaat sedikit pun bagi mereka. Atau mereka mengatakan itu sebagai informasi terhadap realitas yang terjadi, karena mereka tidak sudi mendengar seruannya karena tidak suka dan benci kepadanya. Maka Allah Ta'ala mengazab mereka atas penolakan itu karena mereka tidak ingin mendengar dan memahami apa yang dikatakan sang Rasul: 

"Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya." (QS. Al-Kahfi: 57) 




"Dan apabila kamu membaca Al Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya." (QS. Al-Isra: 45-46) 

Mereka bahkan tidak berhenti menghinakan Nabi Syu'aib as. Mereka berkata: 

وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِيْنَا ضَعِيْفاً وَلَوْلاَ رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيْزٍ 

"Sesungguhnya kami tidak memandangmu kecuali sebagai orang lemah. Bila tidak karena kaummu, niscaya kami akan merajammu, dan engkau bagi kami tidak memiliki kekuatan apapun." Dalam diri mereka tumbuh kesombongan jahiliyah dan keangkuhan yang mengalahkan jiwa meeka. Karena itu mereka memojokkannya sebagai orang lemah. Menghinakannya bahwa ia tidak sanggup menghindari mereka bila menghendaki keburukan terhadapnya. Mereka melihatnya bahwa bila bukan karena kaumnya, niscaya mereka tidak memilihnya untuk berada di tengah mereka, apalagi mengikutinya. Mereka bahkan akan membunuhnya. Kaumnyalah yang membuat mereka masih menghormatinya, karena agama dan ideologi mereka yang masih sama sebagaimana yang dianut oleh bapak-bapak mereka. 

Tapi lihatlah bagaimana Nabi Syu'aib mencaounter perkataan mereka dengan mengatakan:

يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللهِ 

"Wahai kaumku, apakah kaumku lebih mulia bagi kalian daripada Allah?" kalian lebih menghargainya daripada Allah yang menciptakan kalian, lebih takut kepada mereka daripada kepada Allah Ta'ala. Sikap seperti ini adalah sebuah kesesatan yang sangat nyata. 

Inilah contoh kebodohan dan kesesatan yang paling buruk. Ketika seseorang menilai dan menghargai makhluk lalu lupa pada keperkasaan Sang Pencipta. Mereka merendahkan Rasul Allah dan mendustakannya, mengancam akan mengusir, membunuh dan seterusnya. Mereka hanya mampu menahan marah karena pertimbangan sekelompok orang yang menyertai mereka dalam pemenuhan syahwat dan dosa. Bila manusia akhirnya berbuat karena takut pada amarah sekelompok manusia, maka sikap itu seharus lebih layak terhadap sang Pencipta. Karena amarah-Nya dapat menyebabkan penderitaan yang abadi dan siksaan tiada henti. 

Setelah itu, Nabi Syu'aib as. Lalu berkata dengan kalimat yang lembut: 

إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ 

"Sesungguhnya Tuhanku Maha meliputi segala yang kalian lakukan." Artinya bahwa, Allah mengetahui apa pun yang kalian lakukan, sehingga tidak sesuatu pun tersembunyi bagi-Nya. Dia akan menghisab kalian dengan timbangan keadilan, dan mengganjar kalian dengan balasan yang setimpal. Ia lalu berkata kepada mereka, "Wahai kaumku! Berbuatlah sesuka nafsu dan kemampuan kalian melakukan tipu daya. membanggakan harta kekayaan yang kalian miliki sebagai bekal dan kekuatan. Menghinakan Tuhan dan Pencipta kalian. Saya akan tetap bekerja sesuai dengan prinsip dan akidah yang saya anut dan takkan berpaling darinya. 

Kalian juga akan mengetahui siapa yang akan didatangkan siksaan padanya di hadapan manusia, hingga membuatnya malu dan hina di tengah mereka. Kalian juga akan mengetahui siapa yang jujur dan pendusta. Tunggulah saat itu, sebagaimana saya menanti kedatangannya. Saya senantiasa percaya pada janji kemenangan Tuhanku, pertolongan melalui balatentara dan pasukan-Nya. Maka ketika keputusan Allah Ta'ala yang membinasakan kaum pembangkang itu tiba, Nabi Syu'aib pun diselamatkan bersama orang-orang yang beriman kepadanya, berkat keutamaan yang berhak mereka peroleh karena ketaatan tersebut. Adapun mereka yang menganiaya diri mereka sendiri, maka siksaan itu pun membinasakan mereka semua di dalam kediaman, mati bergelimpangan di atas mayat-mayat mereka sendiri sebagai bukti dahsyatnya siksaan itu. Mereka akhirnya tidak hidup lama dinegeri mereka dan menikmati berbagai kebaikan yang ada di dalamnya.

Kisah ini lalu diakhiri dengan sebuah doa berupa kebinasaan atas negeri Madyan sebagai binasanya kaum Tsamud. Tujuan dari doa tersebut adalah, bahwa mereka menganggap enteng siksaan Allah dengan pembangkangan yang mereka lakukan dan mendustakan Rasul-rasul-Nya. Sekaligus sebagai pelajaran berharga dan hukuman paling dahsyat yang pernah terjadi bagi manusia pembangkang. 

Nabi Syu'aib as. 


Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Penduduk Aikah[4] telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu'aib berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan 'taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu". Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Syu'aib berkata: "Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan". Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa 'azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Asy-Syu'araa: 176-191) 

Penjelasan dan Pelajaran

1) Yang baru dalam surat ini adalah, bahwa Allah Ta'ala mengirim Nabi-Nya, Syu'aib as. kepada penduduk Aikah (Madyan), yaitu belantara yang di dalamnya tumbuh pepohonan yang sangat rimbun terletak di dekat Madyan. Syu'aib adalah orang asing di tengah mereka. Tapi bagi penduduk Madyan, Syu'aib bukan orang asing bagi. Karena itu mereka menganggapnya sebagai saudara. Berbeda dengan perlakukan penduduk Aikah kepadanya. Tempat tinggal mereka di Hijaz terletak di dekat Syam. 

Kaum Nabi Syu'aib dianggap mendustakan seluruh Rasul walau Nabi yang diutus kepada mereka hanya Syu'aib saja. Sebagaimana yang kami katakan sebelumnya bahwa dakwah para Rasul adalah satu; membawa kebenaran dalam hujjah yang sama. Maka kaum yang mengingkari seorang Rasul dianggap telah mendustakan seluruhnya. 

Anda juga dapat melihat dalam surat tersebut, bahwa Nabi Syu'aib as. Berkata kepada penduduk Aikah sesuatu yang tidak dikatakannya kepada penduduk Madyan. Dari sini kita mengetahui bahwa akhlak dan prilaku kedua penduduk kampung tersebut berbeda. Dalam surat tersebut mereka dituntut agar senantiasa taat kepada Allah Ta'ala yang telah menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka. 

Setelah mereka diseru dengan seruan yang bijak, mereka justru membalas ajakan itu dengan mengatakan: 

إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ اْلمُسَحَّرِيْنَ 

"Sesungguhnya engkau termasuk tukang sihir." Akal mereka telah tertutup sehingga tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan: 

وَمَا أَنْتَ إِلاَّ بَشَرُ مِثْلُنَا 

"Dan engkau tidak lain adalah manusia yang sama seperti kami." Dan seorang manusia tidak layak menjadi seorang Nabi. 

Pada kisah Nabi Nuh as. terdapat jawaban dan balasan dari ucapan kaum pembangkang itu. Kami ingin mengulanginya kembali karena di dalamnya terdapat hikmah mendalam sebagaimana disebutkan sebagian ahli tafsir. 

"Sungguh mengherankan perkara kaum yang sesat, mereka tidak suka bila risalah kenabian dibawa oleh soerang manusia, tapi mereka redha bertuhankan bebatuan." Ini adalah hikmah yang sekaligus meluluhlantakkan alasan orang-orang yang berkata, "Dan engkau bukan seorang manusia yang seperti kami." Mereka lalu menyembah sesuatu yang diciptakan Allah Ta'ala dan berkata, "Dan kami tidak menyangka bahwa engkau tidak lain adalah pendusta." Dalam mendakwakan risalah yang datang dari Allah Azza wa Jalla. 

Yang lebih aneh pada kaum tersebut adalah ketika mereka mengetahui bahwa Syua'ib sebenarnya tidak berkata dusta atas apa yang ia sampaikan terkait dengan perkara dunia, mereka justru menuduh Syua'ib berkata bohong terkait dengan perkara agama mereka. Bila seseorang dianggap mustahil menyatakan sesuatu yang dusta kepada manusia, lalu bagaimana mungkin ia berdusta tentang Allah? Bagaimana mungkin hal ini menarik perhatian mereka bahwa Syu'aib tidak meminta kepada mereka upah karena ajaran yang disampaikannya, tapi dia meminta ganjaran pahala dari Allah Ta'ala? Padahal Demikianlah perkara orang yang jujur yang beramal dengan penuh keyakinan, menyeru manusia dan yakin atas apa yang ia serukan. Seperti itulah tanda kejujuran dan bukti kepercayaannya sebagai pengusung dakwah. Namun demikian mereka berkata: 

إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ اْلمُسَحَّرِيْنَ 

"Sesungguhnya engkau termasuk seorang penyihir." Apakah tukang sihir menyeru manusia atas landasan itu dan membimbing mereka dengan cara seperti itu? Bila Syu'aib menyeru mereka agar memberi segala sesuatu sesuai dengah haknya, maka hendaklah mereka tidak curang dalam menakar dan menimbang, dan tidak merugikan hak orang lain. 

Apabila dakwah ini adalah berita gembira, lalu bagaimana dengan dakwah orang yang berakal? Bila metode ini adalah cara seorang pendusta, lalu bagaimana dengan metode orang jujur dan dapat dipercaya? Bila Syua'iab adalah seorang yang terkena sihir, lalu mengapa saudara-saudaranya kaum Madyan takut kepadanya? Dan mengapa mereka melakukan berbagai macam cara untuk mengancam kaum Mukminin dan menghalangi jalan mereka? Mengapa mereka mengancam akan mengusirnya bersama orang-orang yang beriman kepadanya bila tidak kembali kepada ideologi mereka? Apa sesungguhnya nilai seseorang yang terkalahkan oleh akal sehatnya? 

Mengapa tidak sama bagi mereka bila ia kembali ke agama mereka atau tidak? Ketika ia tetap tinggal di negerinya atau tidak? Bukankah setiap orang memiliki akal sehat tahu bahwa dakwah yang berdiri di atas akal dan tekad, sangat berbeda dengan dakwah yang berdiri di atas akal gila dan diseru oleh seorang pendusta? Apabila akal sehatnya terkalahkan, maka kegilaannya akan akan mengalahkannya. Dan bila berdusta, maka suatu hari nanti dia akan jatuh terhinakan. 

Yang benar adalah, bahwa kaum ini dipenuhi keragu-raguan, sehingga tidak mampu mensejajarkan antara kata dan pengetahuan. Amal yang mereka lakukan tidak berdiri di atas rasionalitas. Sehingga sangat lumrah bila sikap mereka di hadapan Nabi Syu'aib sebagai penentang dan pendusta risalah yang ia bawa. Sikap itu membuat mereka mengatakan: 

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفاً مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ 

"Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (QS. Asy-Syu'ara: 187) Sama dengan apa yang dikatakan kaum 'Aad kepada Huud: 

فَأتِنَا بِمَـا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ 

"Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (QS. Al-A'raaf: 70) Ucapan Tsamud kepada Nabi Allah, Shaleh as.: 

يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ اْلمُرْسَلِيْنَ 

Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". (QS. Al-A'raaf: 77) Dan juga sama dengan ucapan kaum kafir Quraisy kepada Muhammad saw: 

أَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ اْلحَقُّ مِنْ عْنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ 

"Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih". (QS. Al-A'raaf: 32) Seperti inilah cara para pembangkang yang meminta apabila Al-Qur'an datang dengan kebenaran dari-Nya, maka biarlah Ia menimpakan siksa-Nya terhadap mereka, sebagaimana ditimpakan kepada pasukan gajah atau dengan siksaan yang lain. Mereka ingin menyangkal kebenaran-Nya, sehingga pengingkaran itu tidak mendatangkan siksa bagi mereka. Sebagaimana orang yang berkata, bah apabila ini benar-benar kebatilan, maka timpakanlah kepada kami bebatuan. 

Penyebutan Al-Qur'an dengan kata "kebenaran" adalah untuk menghinakan mereka. Karena mereka seharusnya berkata, "Apabila ini adalah kebenaran dari-MU, maka tunjukilah kami." Tapi mereka kaum yang membangkang dan mendustakan ayat-ayat Allah, keluar dari aturan-aturan-Nya dan hanya mematuhi hawa nafsu mereka. sehingga Nabi Syu'aib as. berkata, "Allah Maha tahu atas apa yang kalian lakukan." Siksaan akan meliputi kalian bila Ia menghendakinya. Bila Ia ingin menyiksa kalian dengan menjatuhkan gumpalan dari langit, niscaya Ia akan melakukannya. Bila Ia menghendaki siksaan lain, maka Ia akan menyiksa kalian. Bila Ia ingin menunda siksaan tersebut atas kalian pada hari yang lain, maka Ia Maha Kuasa atas semua itu. Sebagaimana jawaban Nabi Nuh as. ketika kaumnya berkata kepadanya: 

Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri." (QS. Huud: 32-33) 

Dan Allah Ta'ala berfirman: 

"Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa 'azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar." (QS. Asy-Syu'araa: 189) 

Disini Allah memperlihatkan kepada kita bahwa sebab dijatuhkannya siksaan itu karena mereka mendustakan Nabi Syu'aib, sehingga tidak ada lagi jarak antara dusta dan siksaan. Ini sekaligus sebagai ancaman bagi setiap orang yang memiliki kesamaan dalam prilaku seperti ini. 

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala menimpakan kepada mereka udara panas selama beberapa hari, sehingga tidak bermanfaat sedikit pun tempat mereka bernaung, tak ada air dan minuman. Itu membuat mereka keluar menuju dataran. Gumpalan awan tebal disertai udara sejuk membuat mereka bernaung dibawahnya. Tak lama kemudian jilatan api membakar tubuh mereka semua. Wallahu a'lam. 


Pelajaran dan Nasehat dari Kisah Nabi Syu'aib as. 

Yang lebih mengherankan dari kaum seperti ini adalah, bahwa ketika seorang Nabi yang mulia datang menyeru mereka dengan seruan yang jelas sebenderang cahaya matahari siang hari, mereka justru berkata: 

"Mereka berkata, Wahai Syu'aib, kami tidak banyak tahu apa yang engkau katakan itu, dan sesungguhnya kami melihatmu sebagai orang yang lemah di antara kami." Walau dakwah yang diserukan sang Nabi begitu jelas. Ia menyeru mereka untuk meninggalkan tata cara beribadah kepada selain Allah. Namun mereka membalasnya dengan ancaman akan mengusirnya dari kampung halamannya, demikian pula dengan orang-orang yang bersamanya.

Nabi Syu'aib menyeru mereka agar meninggalkan perbuatan keji –berlaku curang dalam menakar dan menimbang-, namun mereka menjawabnya dengan jawaban hinaan dan cemoohan. Mengejek tata cara shalat dan ibadah mereka lakukan: 

Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." (QS. Huud: 87) 

Demi Allah! Sungguh sangat mengherankan bila seorang jahil menghina orang yang alim, orang gila mengejek orang yang berakal, atau ketika seorang bodoh yang memiliki alasan dan penjelasan ingin membuktikan bahwa musuhnya itu memiliki aib, sehingga ia menyerunya kepada keutamaan dan kebersihan? Sejak kapan sikap istiqamah dianggap sebagai kekurangan? Sejak kapan keutamaan dikategorikan sebagai cela sehingga seseorang dihina dan dicemooh karenanya? Tetapi seperti itulah logika orang yang menentang dan memusuhi dakwah ini. Sebagaimana ucapan kaum Nabi Luth kepada Nabi mereka dan pengikutnya dari orang-orang yang berimana: 

أَخْرِجُوْهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُوْنَ 

"Keluarkanlah Syu'aib dari kampung kalian, sesungguhnya dia adalah manusia yang membersihkan diri." Demikian pula sikap penduduk Madyan terhadap Nabi Syu'aib as. yang berkata: 

وَقَالَ اْلمَلَأُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْباً إِنَّكُمْ إِذاً لَخَاسِرُوْنَ 

"Dan berkatalah para pemimpin yang kafir itu dari kaumnya, bila kalian mengikut Syu'aib, maka sesungguhnya kalian termasuk orang yang merugi." (QS. Al-A'raff: 90) 

[1]) Penduduk Aikah adalah kaum Syu'aib. Aikah ialah lokasi berhutan di pinggiran wilayah Madyan.
[2]) Ya'ni kota kaum Luth (Sadum) dan Aikah.
[3]) dimaksud dengan "Penduduk Aikah" ialah penduduk Mad-yan yaitu kaum Nabi Syu'aib a.s.
http://aridasahputra.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar