Sabtu, 25 Juni 2016

6 Tanda Bisnis Anda Harus Banting Setir

Ide bisnis tidak banyak yang sempurna sejak awal kemunculannya. Itulah kenapa penting sekali bagi Anda untuk mengenali kapan Anda perlu mengoreksinya. Dan kalau perlu, mengubah haluan (pivot) ke arah yang berbeda, menutup yang lama, dan membuka yang baru. Pertanyaannya, kapan Anda boleh pivot?
1. Komponen di dalam bisnis Anda berpotensi lebih baik untuk berkembang dibanding bisnis Anda.

Salah satunya ketika Anda menyadari bahwa produk pendukung Anda memiliki potensi yang lebih besar untuk berkembang di banding produk asli Anda. Misalnya Anda mengembangkan bakso dan saus. Ketika diuji di market, rupanya saus Anda lebih diminati dibanding bakso Anda. Kenapa harus mempertahankan bakso Anda ketika Anda, katakanlah, bisa menjual lebih banyak saus dengan profit yang lebih menguntungkan.
 
pivot
2. Anda salah menilai market.
Banyak pebisnis yang tampil percaya diri bahwa pasar sangat menantikan produk mereka. Tetapi ketika diluncurkan, rupanya target pasar sama sekali tidak tertarik. Value proposition yang ditawarkan tidak cukup beresonansi dengan target audiens untuk menarikrepeat order. Tidak ada yang mau berlangganan. Mungkin artinya, Anda harus mulai re-evaluasi inti bisnis Anda.

3. Tidak ada yang mau membayar.
Lampu merah untuk pivot juga dapat terindikasi ketika misalnya, layanan Anda mulai berpindah dari gratis ke berbayar. Banyak sekali bisnis yang memulai layanannya dari gratis ke berbayar. Ketika tingkat konversi ke pembelian sangat rendah, maka artinya produk atau layanan Anda hanya sekedar berada di tingkat “baik untuk dimiliki”, tetapi tidak “harus dimiliki”.

4Anda melewatkan standar industri.
Anda harus memahami siklus penjualan di industri Anda untuk menilai apakah Anda berada di jalur yang benar atau tidak. Misalnya, apakah siklus penjualan untuk target pelanggan Anda seharusnya adalah per tiga, empat, atau enam bulan. Jika Anda menemukan bahwa Anda mendapat lebih banyak penolakan dalam jangka waktu siklus standar industri tersebut, bisa jadi artinya bendera merah untuk bisnis Anda.

5Bisnis Anda tidak menghasilkan uang.
Ide bisnis Anda berhasil menarik berbagai liputan media dan dinobatkan sebagai The Next Big Thing. Tetapi setelah sekian bulan berjalan, tidak ada uang yang Anda hasilkan. Sementara simpanan Anda semakin menipis. Ketika kantong Anda sudah tidak cukup untuk menutupi bisnis Anda, maka sudah waktunya untuk pivot. Memang, banyak sekali pebisnis yang berhasil meluncurkan produk mereka dan membangun sesuatu yang mereka banggakan, tetapi rupanya tidak menghasilkan. Anda tidak dapat hidup di dunia entrepreneur jika tidak menghasilkan uang.

6Kompetitor Anda melakukannya dengan lebih baik.
Amazon bukanlah penjual buku online pertama di dunia, begitu pula dengan eBay bukan merupakan website lelang pertama. Mereka hanya melakukannya lebih baik dibanding pendahulunya. Jika divisi sales Anda terus menerus kalah dari kompetitor, mungkin ada beberapa hal yang mempengaruhinya, misalnya Anda salah menentukan harga, Anda tidak memiliki fitur yang pas, atau Anda tidak cukup berbeda dibanding kompetitor Anda. Lihatlah pada metrik. Mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan pivot.

7Sensasi itu sudah hilang.
Startup tidak akan berhasil tanpa founder dan karyawan yang antusias dan bersemangat terhadap bisnis mereka. Jika rasa antusias ini sudah rendah dan karyawan Anda satu per satu mulai resign, mungkin sudah saatnya untuk pivot. Menjadi entrepreneur tidaklah mudah. Jika dia tidak menggairahkan dan menarik, artinya Anda perlu beralih. Karena tanpa gairah, dunia entrepreneur tidak akan menjadi lebih mudah.

Bagi kebanyakan bisnis baru, tahu kapan harus pivot bisa jadi lebih penting dibanding memiliki ide yang sempurna di awal. Mengutip pernyataan Scott Jacobson, direktur Madrona Venture, “Ide itu murah, eksekusinya yang susah.” Maka, sebagaimana anda mendengar feedback market, customer, dan melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan produk Anda, tidak menutup kemungkinan untuk mempertimbangkan pivot. Fleksibilitas akan sangat membantu kesuksesan Anda di masa depan. Nah Sobat Studentpreneur, bagaimana menurut Anda. Haruskah bisnis yang tidak menguntungkan dipertahankan? Jangan lupa ikuti facebook dan Twitter kami ya!

Baca Juga:
Taufik Aditama
Wartawan senior Studentpreneur yang ingin berkeliling dunia dan membuat Indonesia lebih baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar