Minggu, 28 Agustus 2016

Fadlilah Kalimat Tauhid La ilaha illa Allah

Fadilat Kalimat Tauhid
Karena kalimat la ilaha illa Allah merupakan formula zikir yang paling utama, maka ia selalu dibaca di saat ujian tiba, baik oleh wali Allah maupun musuh-Nya. Misalnya Fir’aun, ketika hampir tenggelam dalam lautan, ia berkata, “Saya beriman bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang diimani oleh Bani Israel.” (Q.S. Yunus [10]: 10). Maksudnya, tidak ada tuhan yang bisa membuat api menjadi dingin seperti yang terjadi pada IbrAhim as., serta tidak ada tuhan yang bisa membuat air menjadi bencana seperti yang terjadi pada dirinya, selain Zat yang dipercaya oleh Bani Israel.
Hal yang sama terjadi pada Yunus a.s. Allah berfirman, “Dalam keadaan yang sangat gelap, ia (Yunus a.s.) berseru, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.”‘ (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 87). Maksudnya, “Engkaulah yang mampu menjaga seseorang untuk tetap hidup dalam perut ikan. Tak ada selain-Mu yang mampu melakukannya.” Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan, mengapa seruan Nabi Ytrnus as. ditanggapi, sementara seruan Fir’aun tidak direspon?
Pasalnya, seruan Nabi Yfinus a.s. didahului oleh sebuah makrifat atau pengetahuan. Allah berfirman,”Janganlah kamu (wahai Muhammad) seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (Yunus) ketika ia berdoa dalam keadaan marah kepada kaumnya.” (Q.S. al- Qalam [68]: 8). Allah juga berfirman, “Maka kalau sekiranya ia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS al-Shaffat [37]:143-144). Di sini patut diperhatikan bahwa siapa yang menjaga (mengingat) Allah saat sendiri, Allah akan menjaganya saat ia berada dalam kesulitan serta akan memberinya keselamatan.
Nabi Yunus a.s. membaca kalimat tersebut dengan kalbu yang hadir, menyaksikan, dan pasrah. Maka, lafal yang diucapkannya adalah la ilaha illa Anta (Tiada tuhan selain Engkau). Sementara Fir’aun membaca kalimat tersebut dengan kondisi kalbu yang lalai, tak mengenal Tuhan. Sehingga, yang diucapkannya adalah la ilaha illa al-ladzi amanat bihi bani Isra’il (saya beriman bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang diimani oleh Bani Israel).
Sebelumnya Fir’aun memang telah kufur. Ia membaca kalimat tersebut bukan sebagai bentuk ketundukan, tetapi agar diselamatkan dari tenggelam. Ini ditunjukkan oieh firman Allah, “Ketika hampir tenggelam, ia berkata,’Saya beriman bahwa tiada tuhan selain Tuhan yang diimani oleh Bani Israel.” (Q.S. Yirnus [10]: 10).
Ketika Allah memerintahkanmu untuk melakukan berbagai ketaatan, Allah sama sekali tak turut serta bersamamu. Namun, ketika Allah memerintahkanmu untuk mengucapkan kalimat la ilaha illa Allah, Dia turut serta melakukannya. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia Yang Menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan hal yang sama). Tak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana (Q.S. Ali Imran [3]: 18). Pengulangan kalimat tauhid dalam ayat di atas mengisyaratkan agar engkau juga terus membacanya berulang kali sepanjang hidupmu.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Yusuf a.s. ingin mengangkat seorang menteri. Tak lama kemudian jibril rnendatanginya seraya berkata, “Allah menyuruhmu untuk mengangkat si Fulan sebagai menterimu.” Dalam pandangan Yusuf orang tersebut sangat hina. Maka, ia bertanya kepada jibril mengapa Fulan yang dipilih. Jibril menjelaskan, “la telah berjasa lantaran pernah rnemberikan kesaksian untukmu. Ia adalah orang yang berkata, “]ika baju gamisnya koyak dari depan, maka wsnita itu benar dan Yusuf termasuk pendusta. Tetapi, kalau ia koyak dari belakang, berarti wanita itulah yang dusta sernentara Yusuf termasuk orang yang benar.” (Q.S. Yusuf [12]: 26-27). Dari ayat tadi dapat ditarik pelajaran bahwa ketika seseorang memberikan kesaksian untuk makhluk, ia mendapatkan jabatan menteri di dunia. Kalau begitu bagaimana dengan orang yang memberi kesaksian kepada Allah sebagai Zat Yang Esa dan Agung. Pasti ia akan mendapat makrifat dan rahmat-Nya di hari kemudian.
Sekiranya ada tujuh langit dan tujuh bumi yang diciptakan oleh zat selain Diri-Ku dan diletakkan pada satu sisi timbangan, kemudian pada sisi yang lain diletakkan la ilaha illa Allah, maka la ilaha illa Allah pastilah lebih berat darinya.
(hadis qudsi)
Dalam hadis disebutkan, “Allah memiliki para malaikat yang turut mengamini amin-nya imam. Maka, siapa yang bacaan amin-nya bersamaan dengan aminnya para malaikat tersebut, pasti dosa-dosanya yang terdahulu diampuni.”  Dari sini dapat dipahami bahwa sekali saja bacaan amin seseorang bersamaan dengan amin-nya para malaikat ia sudah mendapat ampunan. Jika demikian bagaimana dengan kesaksian seseorang akan keesaan Allah, lalu dia bersaksi kepada Allah sebanyak seribu kali. Tentu, ia lebih pantas untuk mendapat ampunan Tuhan.
Suatu kali al-Hajjaj pernah diperintah untuk membunuh seseorang. Namun, orang tersebut berkata, “Jangan kau bunuh aku sebelum kau bawa aku pergi bersamamu.”  Al-Hajjaj pun mengabulkan permintaannya.
Ketika di jalan orang tersebut berkata kembali, “Dengan persahabatan di antara kita saat ini, janganlah kau bunuh aku.” Maka, al-Hajjaj memaafkan orang tadi. Lalu bagaimana dengan seorang mukmin yang mengikat sebuah tali persahabatan dengan Allah lewat kesaksiannya. Tentu diharapkan Allah mengampuninya.
Kalimat la ilaha illa Allah bisa naik sendiri menuju Allah. Sementara ibadah yang lainnya harus dibawa naik oleh malaikat.  Allah berfirman, “Kepada-Nya ucapan yang baik (la ilaha illa Allah) langsung naik, sementara amal saleh dinaikkan-Nya.” (Q.S. Fathir [35]:10). Menurut sebagian ulama, amal saleh tersebut dinaikkan dengan perantaraan para malaikat.
Allah berfirman (dalam hadis qudsi), “Kusediakan surga untuk ahli la ilaha ilIa Allah, Kuharamkan neraka untuk ahli la ilaha ilIa Allah. Dan Kuampunkan dosa untuk ahli la ilaha ilIa Allah. Rahmat dan ampunan-Ku terbuka bagi ahli la ilaha ilIa Allah. Sengaja Kuciptakan surga hanya untuk ahli la ilaha ilIa Allah. Ahli la ilaha ilIa Allah tersebut hanya bisa dicampuri dengan sesuatu yang sesuai dengan kalimat la ilaha ilIa Allah.
Nabi saw. bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan kalimat la ilaha ilIa Allah. Ketika mereka sudah mengucapkannya, maka terlindungilah darah dan harta mereka dariku kecuali sesuai dengan haknya dan perhitungan mereka ada di tangin Allah.”
.
Pengertian la ilaha ilIa Allah
Para ahli makrifat memberi tafsiran yang beragam terhadap kalimat la ilaha ilIa Allah.
Pertama, dalam pandangan Ibn Abbas r.a., la ilaha ilIa Allah bermakna tidak ada yang bisa memberikan manfaat, tidak ada yang bisa mendatangkan bahaya, tidak ada yang dapat memuliakan, tidak ada yang dapat menghinakan, tidak ada yang dapat memberi dan tidak ada pula yang menolak selain Allah.
Kedua, makna dari la ilaha ilIa Allah yakni tidak ada yang dapat diharapkan anugerahnya, tidak ada yang patut ditakuti siksanya, tidak ada yang patut di harapkan perlindungannya, tidak ada yang patut diyakini kemurahannya, tielak ada yang patut dilaksanakan perintahnya, tidak ada yang layak dimintai ampunan nya, tidak ada yang patut dijauhi larangannya, serta tidak ada yang dihormari kemuliaannya selain Allah.
Ketiga, kalimat la ilaha ilIa Allah rnenjadi pertanda adanya makrifat dan tauhid dalam diri seseorang lewat lisan yang memuji dan mengakui penguasa yang Agung. Jika seorang hamba mengucapkan la ilaha ilIa Allah, berarti tidak ada tuhan yang memiliki kenikmatan, anugerah, karunia, kekuatan, keabadian, keagungan, keluhuran, keperkasaan, pujian, murka, dan rida, selain Dia, Allah. Dia-lah yang menguasai alam semesta ini, Pencipta generasi terdahulu dan generasi akhir zaman. Dialah yang memberikan pembalasan di hari kernudian.
Keempat, makna dari kalimat tersebut adalah hanya kepada Allah kita berharap dan menaruh rasa cemas. Hanya Dia yang mampu melapangkan kesempitan dan kesulitan.
Ada yang berpendapat bahwa kalimat la ilaha ilIa Allah terdiri dari 12 huruf. Karena itu, tidak aneh kalau kemudian kita diwajibkan untuk melaksanakan 12 kewajiban. Enam di antaranya berupa aktivitas lahiriah, sedangkan enam lainnya berupa aktivitas batiniah. Yang bersifat lahiriah adalah bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Sementara yang bersifat batiniah adalah tawakal, pasrah, sabar, rida, zuhud, dan tobat.
Menurut sebagian ahli hikmah, para rnalaikat pernah meragukan manusia dengan berkata, “Apakah Engkau akan menciptakan di bumi ini makhluk yang melakukan kerusakan di dalamnya”. Namun Allah menjawab, “sungguh Aku mengetahui apa yang tak kalian ketahul.” Ketika seorang mukmin meninggal dunia, Allah mengutus kepadanya dua orang malaikat. Keduanya bertanya, “Siapa Tuhanmu? Dan apa agamamu?” Mukmin tersebut menjawab, “Tuhanku adalah Allah dan agamaku adalah Islam.” Maka, Allah pun memerintahkan kepada kedua malaikat itu untuk bersaksi sebagaimana kesaksian mukmin tadi. Lalu Allah berkata kepada para malaikat, “Lihatlah kepada hamba-Ku ini. Ruh, harta, dan istrinya telah diambil. Hartanya diambil penduduk dunia. lstrinya pun berada di pangkuan orang. Selanjutnya ketika malaikat bertanya kepadanya saat ia berada di perut bumi, yang ia sebutkan hanya satu; ia mentauhidkan dan mensucikan diri-Ku agar mereka semua mengetahui bahwa Aku mengetahui apa yang tak kalian ketahui.”
Selain itu, di awal penciptaan, manusia sudah ditanya oleh Allah, “Bukankah Aku Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Ya.”  Maka, Allah pun bersaksi atas mereka. Ketika manusia datang ke dunia, mereka juga bersaksi dengan tauhid. Kesaksian tersebut juga disaksikan oleh para nabi dan orang-orang mukmin. Kemudian di saat ia mati dan masuk ke dalam kubur, dua malaikat menanyakan kesaksian tersebut. Di dalam kubur, ia bersaksi dengan kesaksian tadi. Malaikat itupun mendengar kesaksiannya. Manakala hari kiamat tiba, Iblis datang untuk meraihnya seraya berkata, “Ia termasuk pengikutku sebab ia mengikutiku dengan melakukan maksiat.” Namun, Allah segera menjawab, “Kamu tidak mempunyai kekuasaan atasnya. Sebab, Aku telah mendengar tauhidnya baik di awal penciptaan maupun di akhir kehidupannya. Para rasul mendengar hal yang sama ketika ia berada di dunia. Dan para malaikat pun mendengarkan kesaksiannya saat di akhir kehidupannya. Dengan begitu, mana mungkin ia termasuk pengikutmu?l Bagaimana mungkin kamu berkuasa atasnya?! (Wahai malaikat) bawalah ia ke surga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar