Jumat, 14 Oktober 2016

Bangsa Sunda Yang Mempunyai Jati Sunda

Meluruskan kesalahfahaman dalam memahami Ki Sunda sebagai nama sebuah suku bangsa atau kelompok masyarakat yang tinggal di pulau Jawa bagian Barat telah berakibat fatal dan tragis terhadap keberadaan nama Galuh. Dulunya Galuh adalah nama bangsa yang menganut Jati Sunda/Sunda Wiwitan, sebelum budaya Hindu, Budha, Kristen dan Islam datang Ke Indonesia.

Dengan demikian yang selama ini selalu disebut "Orang Sunda" sebagai kelompok kesukuan atau kemasyarakatan maksud yang sebenarnya adalah Orang Galuh atau Bangsa seuweu sisi Galuh Agung Padjadjaran (tepatnya menunjuk kepada penduduk wilayah pada suatu kabuyutan).

Agar lebih jelas kita gunakan contoh sebagai berikut : Jika seseorang mengatakan "Saya orang Indonesia beragama Islam (Islam = Selamat) pernyataan itu sering disingkat menjadi "Saya orang Islam". Lain hal jika kalimatnya berbunyi "Saya bangsa Indonesia menganut agama Islam", dalam kalimat tersebut jelas mengatakan status kebangsaannya, dan memang tidak ada "bangsa Islam" di Indonesia sebab yang layak disebut "bangsa Islam" tentunya hanya bangsa Arab itu sendiri. 

Maka demikian pula dengan persoalan seuweu-siwi Sunda Galuh dan Padjadjaran hingga dengan sewajarnya jika mengatakan bahwa "Saya orang Galuh atau orang sumedang beragama Islam".

Galuh sama sekali bukan daerah kecil yang terletak di daerah Ciamis. Pada jaman dahulu luas wilayah Galuh hampir sama dengan luas Bumi atau boleh jadi hampir sama dengan luas keberadaan Jati Sunda.


Penyebaran Jati Sunda di wilayah Galuh Hyang Agung

Di Eropa, khususnya wilayah Perancis dan sekitarnya nama atau sebutan Galuh lebih dikenal sebagai "Gaul" (Gaulia/Golia/Bangsa Gaul) dan lebih umum sering disebut sebagai bangsa Gallia. Sedangkan di wilayah Timur-Tengah tepatnya di Israel istilah "Galuh" dikenal dengan sebutan "Galillea" (Galilee). Untuk membuktikannya kita perlu memahami peninggalan sejarah dibeberapa negara yang secara prinsip hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di Indonesia dan khususnya di pulau Jawa.

Jati sunda yaitu Sundayana ataupun Surayana sangat kental dengan kehidupan masyarakat daerah Timur-Tengah (Israel) tepatnya di daerah "Galillea". Pada mulanya kedatangan ajaran Jati Sunda tentu saja ditentang oleh masyarakat lokal (Israel–Palestina), kejadian tersebut diabadikan dalam cerita Nabi Daud alahissalam (David) melawan Goliath yang dikalahkan oleh sebuah "batu", dan batu yang dimaksud adalah "lingga/menhir atau batu satangtung".

Kewilayahan Galuh Agung penganut ajaran Jati Sunda dimasa lalu pada umumnya terdapat beberapa penanda sebagai perlambangan yaitu berupa Ke-Monoteisme-an atau ke-Tauhid-an : Batu Tunggal/Menhir (Lingga), Simbol Ayam ataupun burung dan Terdapat simbol Sapi atau Kerbau atau sejenisnya.

1. Menhir/Lingga/Batu Tunggal Satantung


Menhir (Lingga)
Lingga adalah sebuah Batu Tunggal sebagai simbol atau penanda yang diletakan sebagai "pusat" kabuyutan, masyarakat Jawa Barat sering menyebutnya sebagai "Batu Tunggal Satangtung" dan merupakan penanda wilayah kabuyutan. Bentuk menhir (lingga) di beberapa negara yang tidak memiliki batu alam utuh dan besar pada umumnya digantikan oleh "tugu batu" buatan seperti yang terdapat di Mekah dan Vatican.


Lingga sebagai batu kabuyutan berasal dari kata "La-Hyang-Galuh" (Hukum Leluhur Galuh). Maksud perlambangan Lingga sesungguhnya lebih ditujukan sebagai pusat/puseur (inti) pemerintahan disetiap wilayah Ibu Pertiwi, tentu saja setiap bangsa memiliki Ibu Pertiwi-nya masing-masing (Yoni).

Dari tempat Lingga (wilayah Rama) inilah lahirnya kebijakan dan kebajikan yang kelak akan dijalankan oleh para pemimpin negara (Ratu). Hal ini sangat berkaitan erat dengan ketatanegaraan bangsa Galuh dalam ajaran Sunda, dimana Matahari menjadi pusat (saka) peredaran benda-benda langit. Fakta yang dapat kita temui pada setiap negara (kerajaan) di dunia adalah adanya kesamaan pola ketatanegaraan yang terdiri dari Rama (Manusia Agung), Ratu (Maharaja) dan Rasi (raja-raja kecil/kareysian) dan konsep ini kelak disebut sebagai Tri Tangtu Buana atau Trisula Nagara.

Umumnya sebuah Lingga diletakan dalam formasi tertentu yang menunjukan ke-Mandala-an, yaitu tempat sakral yang harus dihormati dan dijaga kesuciannya. Mandala lebih dikenal oleh masyarakat dunia dengan sebutan Dolmen yang tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, di Perancis disebut sebagai Mandale sedangkan batunya (lingga) disebut Obelisk ataupun Menhir.

Mandala (tempat suci) secara prinsip terdiri dari 5 lingkaran berlapis yang menunjukan batas kewilayahan atau tingkatan (secara simbolik) yaitu;

1. Mandala Kasungka
2. Mandala Seba
3. Mandala Raja
4. Mandala Wangi
5. Mandala Hyang (Inti lingkaran berupa titik Batu Tunggal Satangtung)
Ke-mandala-an merupakan rangkaian konsep menuju kosmos yang berasal dari pembangunan ke-manunggal-an diri terhadap negeri, kemanunggalan negeri terhadap bumi, dan kemanunggalan bumi terhadap langit suwung (ketiadaan). Dalam bahasa populer sering disebut sebagai perjalanan dari mikro kosmos menuju makro kosmos (keberadaan yang pernah ada dan selalu ada).

2. Lambang Ayam/Hayam
Ayam atau Hayam merupakan perlambangan atas dimulainya sebuah kehidupan. Dalam hal ini keberadaan sosok ayam sangat erat kaitannya dengan kehadiran Sanghyang Kersa (Nu Ngersakeun).

Ayam adalah siloka (symbol) para pendahulu yang memulai kehidupan (leluhur) adalah SangHyang Tunggal atau Sanghyang Keresa (Nu Maha Kawasa, nu Maha Maha Ngersakeun). Jadi persis Ayam dulu sebelum telur, Nabi Adam dahulu sebelum bani Adam karena Ada pembuatnya yaitu Sanghyang Keresa (Nu Maha Ngersakeun, Nu Maha Murbeng Alam, Nu Maha Tunggal)

http://dzat-alif-satunggal.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar