Kembang sungsang dinang kunang Kotak kurawis wayang Lindu nira bumi bengkah Adam adam babu hawa Siskang danur wilis Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya Anwas anwar ngagelaraken Malih kang danur citra Nurcahya nursari nurjati Dangiang wayang wayanganipun Semar sana ya danar guling Basa sem pangangken-angken Mareng ngemaraken Dat Kang Maha Tunggal Wayang agung wineja wayang tunggal Wayang tunggal

Senin, 16 Desember 2013

Doa Penangkal Harta Haram Saat Miskin

Doa ini diajarkan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib, dan para penanggung utang – meski utang sebesar gunung Shier – niscaya Allah akan melunasi utang itu.

Harta haram memang mengerikan dampaknya. Kendatipun demikian, banyak orang yang nekat melahapnya. Alasan mereka pun macam-macam. Ada yang karena tamak. Ada pula yang karena himpitan ekonomi. Salah satunya ketika seseorang terlilit utang atau putus asa mendapat lapangan kerja yang halal dengan penghasilan yang memadai, penghasilan haram akan menjadi fitnah besar baginya. Lantas apakah penangkal fitnah yang berbahaya ini?
Mari kita simak hadis berikut,
Dari Abu Wa-il (Syaqieq bin Salamah), katanya, “Ada seseorang yang menghampiri Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu seraya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku sudah tak mampu lagi mencicil uang untuk menebus kemerdekaanku, maka bantulah aku.’ Ali menjawab, ‘Maukah kau kuajari beberapa kalimat yang pernah Rasulullah ajarkan kepadaku? Dengan membacanya, walaupun engkau menanggung utang sebesar gunung Shier, niscaya Allah akan melunasinya bagimu!’ ‘Mau’, jawab orang itu. ‘Ucapkan:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki halal-Mu agar terhindar dari yang Kau haramkan. Jadikanlah aku kaya karena karunia-Mu, bukan karena karunia selain-Mu.
(HR. Abdullah bin Ahmad dalam Zawa-idul Musnad No. 1319; At-Tirmidzi No. 3563 dan Al-Hakim 1/537. At-Tirmidzi mengatakannya sebagai hadis hasan, dan dihasankan pula oleh Syaikh Al-Albani. Sedangkan Al-Hakim mensahihkannya)
Dalam syariat Islam, seorang hamba sahaya dibolehkan menebus kemerdekaan dirinya dari majikannya, dengan membayar sejumlah uang sesuai kesepakatan. Uang bisa diperoleh dari hasil kerja si budak, atau dari zakat yang diberikan kepadanya. Dalam riwayat lain, yang dinamakan Shabier adalah sebuah gunung di daerah suku Thay atau sebuah gunung di Yaman.
Hadis tersebut mengajarkan pada kita agar tidak melupakan Allah yang menguasai nasib kita di dunia. Dia-lah yang memberi ujian berupa kesempitan. Dan Dia pula yang dapat dengan mudah melapangkannya kembali. Oleh karenanya, tidak sepantasnya seorang Mukmin hanya bertumpu pada usahanya dan lupa bertawakal kepada Allah. Usaha memang harus dilakukan. Namun ia tidak akan memberi hasil yang sempurna kecuali atas izin Allah dan restu-Nya. Untuk mendapatkan restu tersebut, cara yang paling efektif adalah memperbanyak doa. Baik lewat ucapan lisan maupun amal salih. Ucapan yang paling dicintai Allah adalah yang menegaskan ketauhidan-Nya.
Doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengandung penegasan akan nilai tauhid, yaitu ketika hamba hanya memohon kecukupan dan karunia dari Allah, serta meminta agar tidak merasa kaya berkat karunia selain-Nya.
Ini merupakan ibadah yang agung, yang menunjukkan bahwa si hamba benar-benar menggantungkan harapannya kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Dalam hadis tersebut juga terkandung pelajaran mengenai pentingnya tauhid sebagai penutup suatu permohonan.
Sedangkan dalam hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Mu’adz bin Jabal,
“Maukah engkau kuajari sebuah doa yang bila kau ucapkan, maka walaupun engkau memiliki utang sebesar gunung Uhud, Allah akan melunasinya? Katakan hai Mu’adz, ‘
اَللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وُتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَحْمَـانَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا، تُعْطِيهِمَا مَنْ تَشَاءُ وَتَمْنَعُ مِنْهُمَا مَنْ تَشَاءُ، اِرْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ
Ya Allah, Pemilik Seluruh Kekuasaan. Engkau beri kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan, dan Engkau Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Wahai Penyayang dan Pengasih di Dunia dan Akhirat, Engkau memberi keduanya (dunia dan akhirat) kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan menahan keduanya dari siapa yang Engkau kehendaki. Rahmatilah aku dengan rahmat-Mu yang menjadikanku tak lagi memerlukan belas kasih selain-Mu.”
(Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jamus Shaghier dengan sanad yang dianggap jayyid oleh Al-Mundziri. Sedangkan Syaikh Al-Albani menghasankannya; lihat Shahih at-Targhieb wat Tarhieb No. 1821).
Kalau dalam hadis sebelumnya terdapat isyarat agar kita mengakhiri doa dengan penegasan akan nilai tauhid, dalam hadis ini sebaliknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk memulai permintaan dengan menegaskan masalah tauhid. Karenanya beliau memulainya dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan kemahaesaan Allah dari sisi Rububiyyah. Lalu mengikutinya dengan kalimat yang berhubungan dengan tauhid asma’ was sifat. Yaitu dengan menetapkan bahwa semua kebaikan berada di tangan-Nya, dan bahwasanya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Demikian pula dengan kalimat berikutnya, yang merupakan seruan kepada Allah, dengan menyebut dua di antara nama-nama Allah yang indah, yaitu Rahman dan Rahiem. Kemudian barulah si hamba menyebutkan hajat utamanya, yaitu agar Allah melunasi utangnya dan mengentaskannya dari kemiskinan.
Tentunya, doa ini tidak akan efektif jika hanya diucapkan tanpa diresapi maknanya dan diwujudkan esensinya dalam kehidupan sehari-hari. Percuma saja jika seseorang mengucapkan doa tersebut namun tidak mempedulikan status penghasilannya: halal ataukah haram. Percuma juga jika ia rajin mengucapkan doa tersebut namun masih berlumuran dengan syirik akbar yang membatalkan seluruh amalnya.
Oleh karena itu, agar doa ini efektif dan mustajab, kita harus mengucapkannya sembari berusaha memahami ajaran agama semaksimal mungkin, agar tahu mana yang halal dan mana yang haram.
Catatan:
Artikel ini ditulis oleh Ustad Sufyan Basweidan, M.A. dan diterbitkan di Majalah Pengusaha Muslim edisi 35 yang mengangkat tema “Harta Haram.” Pada edisi ini, majalah Pengusaha Muslim secara khusus mengupas serba-serbi harta haram: macam-macamnya dan cara bertaubat dari harta haram. Termasuk hukum bertransaksi dengan pemilik harta haram. Anda bisa mendapatkan edisiE-Mag untuk majalah Pengusaha Muslim, dengan menghubungi: shop.pengusahamuslim.com

DO'A NABI SULAIMAN:



Allaahumma adkhilnma fii suurri sulaimaana, wamalaka sulaimanu 


minalmasyriqi wal maghribi, bizaatihi, washifaatihi, wa 


af'aalihi, waquwwatihi, wasalaamun yaa robba jibraaiila, wa 


mikaa iila, wa isroofiila, wa 'idzroo iila, wamalaka 


sulaimaanu minalmasyriqi wal maghribi, jinnaa wa insaanan 


wariihan wa ghamaaman, tasliiman katsiiron, wasubhanahu, 


wata'aalaa jalla jalaaluhu, wakmaaluhu, 'i'lam ya ibliis 


wasysyayaathiin taskununa (sakiniin) fii dhulumaati. Robbanaa 


taqobbal minnaa du'aa a sulaimaana, washolollohu 'alaa 


sulaimaana wa 'alaa saa iril anbiyaa i birohmatika yaa 


arhamarroohimiin






DOA KESEJAHTERAAN SULAIMAN



"Salaamun 'alaa sulaimaana fil 'aalamiin"


DO'A TERHINDAR DARI SYETAN



"A'uuzubikalimatillaahi tammati, min kulli 'aduwwi wa haammati, wamin kulli syathoonollaammatin, a'uzubillaahi alwaahidi almaajidi, min kulli 'aduwwin wa hasidin, wamin kulli syaithoonimmaridin, bismillaahirrohmaani 'alaa 'abdihi, waqaulini, laqodkholaqnal insaanu fii akhsani taqwiim".

LAU ANZALNA




SHOLAWAT TAFRIJIYAH




SHOLAWAT SYIFA/OBAT



"Allaahumma sholli 'alaa saidinaa Muhammadin thibbilquluubi wa dawaa ihaa, wa 'aafiyatil ibdaani wasyifaa iha, wanuuril abshoori, wadhiyaa ihaa, wa'alaa alihi, washohbihi, wabaarik wasallim"

KAF HA YA




" Kaa Ha Ya Aiin Shood Ha miim 'Aa siin qoof"

ASMAK ULHUSNA YA BAARI

"Yaa Baa Ri U"

AYATUL QURSI




SURAT AL FATIHAH

Cara Melepaskan Hutang ( sebaiknya anda tahu )

1. Hutang tidak boleh mendatangkan keuntungan bagi si pemberi hutang. 

Kaedah fiqh berbunyi : “Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba”. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan. Sedangkan menambah setelah pembayaran merupakan tabi’at orang yang mulia, sifat asli orang dermawan dan akhlak orang yang mengerti membalas budi.

Syeikh Shalih Al-Fauzan –hafizahullah- berkata : “Hendaklah diketahui,tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. (Misalnya), seperti seseorang mengatakan “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian, atau dengan syarat anda berikan rumah atau kedaimu, atau anda
hadiahkan kepadaku sesuatu”. Atau juga dengan tidak dilafazkan, akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan, inilah yang terlarang, adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri, atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap, maka tatkala itu, tidak terlarang mengambil tambahan.
[6]

2. Kebaikan (seharusnya) dibalas dengan kebaikan 

Itulah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tertera dalam surat Ar-Rahman ayat 60, semestinya harus ada di benak para penghutang, Dia telah memperoleh kebaikan dari yang memberi pinjaman, maka seharusnya dia membalasnya dengan kebaikan yang setimpal atau lebih baik. Hal seperti ini, bukan saja dapat mempererat jalinan persaudaraan antara keduanya, tetapi juga memberi kebaikan kepada yang lain, yaitu yang sama memerlukan seperti dirinya. Artinya, dengan pembayaran tersebut,saudaranya yang lain dapat merasakan pinjaman serupa.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.

كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ
مِنْ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ أَعْطُوهُ فَطَلَبُوا
سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا فَقَالَ أَعْطُوهُ
فَقَالَ أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu.orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata,“Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya,akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata : “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab,“Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas dengan setimpal”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian” [7] 

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata. 

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَكَانَ لِي عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَانِي وَزَادَنِي

“Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dan menambahkannya” [8] 

3. Berhutang dengan niat baik 

Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah zhalim dan melakukan dosa.

Diantara tujuan buruk tersebut seperti.

a. Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar
b. Berhutang untuk sekedar bersenang-senang
c. Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : 

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

"Barangsiapa yang mengambil harta orang (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membinasakannya” [9] 

Hadis ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang,karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi diatas [10] Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan azam untuk menunaikannya,sehingga Allah pun memudahkan baginya untuk melunasinya. Sebaliknya,ketika seseorang berazam pada dirinya, bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala melelahkan badannya dalam mencari, tetapi tidak kunjung dapat. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang
tersebut. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana, bagaimana dengan akhirat yang baqa (kekal)?

4. Hutang tidak boleh disertai dengan jual beli 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah melarangnya, karena ditakutkan dari transaksi ini mengandung unsur riba. Seperti, seseorang meminjam pinjaman karena takut riba, maka kiranya dia jatuh pula ke dalam riba dengan melakuan transaksi jual beli kepada yang meminjamkan dengan harga lebih mahal dari biasanya.

5. Wajib membayar hutang 

Ini merupakan peringatan bagi orang yang berhutang. Semestinya memperhatikan kewajipan untuk melunasinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita menunaikan amanah. Hutang merupakan amanah di bahu penghutang yang baru tertunaikan (terlunaskan) dengan
membayarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوْا اْلأَمَاناَتِ إِلىَ أَهْلِهَا
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ إِنَّ
اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيْراً

" Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". [An-Nisa : 58] 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah : “Sekalipun aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, aku tidak akan senang jika tersisa lebih dari tiga hari, kecuali yang aku sisihkan untuk pembayaran hutang” [HR Bukhari no. 2390] 

Orang yang menahan hutangnya padahal ia mampu membayarnya, maka orang tersebut berhak mendapat hukuman dan ancaman, diantaranya.

a. Berhak mendapat perlakuan keras.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata. :

أَنَّ رَجُلًا تَقَاضَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَأَغْلَظَ لَهُ فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَقَالَ دَعُوهُ
فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالًا وَاشْتَرُوا لَهُ بَعِيرًا
فَأَعْطُوهُ إِيَّاهُ وَقَالُوا لَا نَجِدُ إِلَّا أَفْضَلَ مِنْ سِنِّهِ
قَالَ اشْتَرُوهُ فَأَعْطُوهُ إِيَّاهُ فَإِنَّ خَيْرَكُمْ أَحْسَنُكُمْ
قَضَاءً

"Seseorang menagih hutang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai dia mengucapkan kata-kata pedas. Maka para shahabat hendak memukulnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam berkata,“Biarkan dia. Sesungguhnya si empunya hak berhak berucap. Belikan untuknya unta, kemudian serahkan kepadanya”. Mereka (para sahabat)
berkata : “Kami tidak mendapatkan, kecuali yang lebih bagus dari untanya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Belikan untuknya, kemudian berikan kepadanya. Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang paling baik dalam pembayaran” [11] 

Imam Dzahabi mengkatagorikan penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu sebagai dosa besar dalam kitab Al-Kabair pada dosa besar no.20

b. Berhak dighibah (diumpat) dan diberi hukuman penjara.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah.:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْم

“Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezhaliman” [12] 

Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. :

لَيُّ الوَاجِدِ يَحِلُّ عُقُوْبَتَه ُوَعِرْضه

"Menunda pembayaran bagi yang mampu membayar, (ia) halal untuk dihukum dan (juga) kehormatannya”. 

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Halal kehormatannya ialah dengan mengatakan ‘engkau telah menunda pebayaran’ dan menghukum dengan memenjarakannya”
[13]

c.Hartanya berhak disita
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ أَدْرَكَ مَالَهُ بِعَيْنِهِ عِنْدَ رَجُلٍ أَوْ إِنْسَانٍ قَدْ أَفْلَسَ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ مِنْ غَيْرِهِ

“Barangsiapa yang mendapatkan hartanya pada orang yang telah bangkrap,maka dia lebih berhak dengan harta tersebut dari yang lainnya” [14] 

d. Berhak di-hajr (dilarang melakukan transaksi apapun).
Jika seseorang dinyatakan bankrap dan hutangnya tidak dapat dibayar oleh hartanya, maka orang tersebut tidak dibenarkan melakukan transaksi apapun, kecuali dalam hal yang ringan sahaja.

Hasan berkata, “Jika nyata seseorang itu bangkrap, maka tidak boleh memerdekakan, menjual atau membeli” [15]

Bahkan Dawud berkata, “Barangsiapa yang mempunyai hutang, maka dia tidak diperkenankan memerdekakan budak dan bersedekah. Jika hal itu dilakukan, maka dikembalikan” [16]

Kemungkinan –wallahu a’lam- dalam hal ini, hutang yang dia tidak sanggup lagi melunasinya.

6. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan kewangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman, karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan.

Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan memperparah keadaan, dan mengubah hutang, yang awalnya sebagai wujud dari kasih sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.

7. Berusaha mencari penyelesaian lain sebelum berhutang, dan usahakan hutang merupakan penyelesaian terakhir setelah semua usaha lain gagal

8. Menggunakan wang dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَ

"Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya, hingga dia menunaikannya” [17] 

9. Pelimpahan hutang kepada yang lain diperbolehkan dan tidak boleh ditolak.Jika seseorang tidak sanggup melunasi hutangnya, lalu dia meminta tolong kepada seseorang yang mampu melunasinya, maka yang menghutangkan harus menagihnya kepada orang yang ditunjukkan, sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah :

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَمَنْ أُتْبِعَ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتَّبِعْ

“Menunda pembayaran bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman.Barangsiapa yang (hutangnya) dilimpahkan kepada seseorang, maka hendaklah dia menurutinya. [18] 

10. Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk meminta halal atas hutangnya atau pengurangan, dan juga mencari perantara (syafa’at) untuk memohonnya.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : (Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya, akan tetapi mereka enggan. Aku pun mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta syafaat (bantuan) kepada mereka.(Namun) mereka pun tidak mau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pisahkan kurmamu sesuai dengan jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, dan Ajwa satu kelompok, lalu datangkan kepadaku. (Maka) akupun melakukannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas hutangnya, dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. [19]

BAGI YANG MENGHUTANGKAN AGAR MEMBERI KERINGANAN KEPADA YANG BERHUTANG 

Pemberian pinjaman pada dasarnya dilandasi karena rasa belas kasihan dari yang menghutangkan. Oleh karena itu, hendaklah orientasi pemberian pinjamannya tersebut didasarkan hal tersebut, dari awal hingga waktu pembayaran. Oleh karenanya, Islam tidak membenarkan tujuan yang sangat baik ini dikotori dengan mengambil keuntungan disebalik kesusahan yang berhutang.

Di antara yang dapat dilakukan oleh yang menghutangkan kepada yang berhutang ialah.

1. Memberi keringanan dalam jumlah pembayaran
Misalnya, dengan wang satu juta ringgit yang dipinjamkannya tersebut, dia dapat beramal dengan kebaikan berikutnya, seperti meringankan pembayaran si penghutang, atau dengan boleh membayarnya dengan jumlah di bawah satu juta ringgit, atau boleh juga mengizinkan pembayarannya dilakukan dengan cara mengangsur, sehingga si penghutang merasa lebih
ringan bebannya.

2. Memberi keringanan dalam hal lama tempoh pembayaran
Si pemberi pinjaman dapat pula berbuat baik degan memberi kelonggaran waktu pembayaran, sampai si penghutang betul-betul sudah mampu melunasi hutangnya.

Dari Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Suatu hari ada seseorang meninggal. Dikatakan kepadanya (simati di akhirat nanti). Apa yang engkau perbuat? Dia menjawab. :

كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فَأَتَجَوَّزُ عَنْ الْمُوسِرِ وَأُخَفِّفُ عَنْ الْمُعْسِرِ فَغُفِرَ لَهُ

"Aku melakukan urusan-urusan, lalu aku menerima ala kadarnya bagi yang mampu membayar (hutang) dan meringankan bagi orang yang dalam kesulitan. Maka dia diampuni (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)". [20] 

3. Pemberi pinjaman menghalalkan hutang tersebut, dengan cara membebaskan hutang, sehingga si penghutang tidak perlu melunasi pinjamannya.

Beginilah kebiasaan yang sering dilakukan oleh Salafus soleh.Jika mereka ingin memberi pemberian, maka mereka melakukan transaksi jual beli terlebih dahulu, kemudian dia berikan barang dan harganya atau dia pinjamkan, kemudian dia halalkan, agar mereka mendapatkan dua kebahagian dan akan menambah pahala bagi yang memberi.

Sebagai contoh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli onta dari Jabir bin Abdullah dengan harga yang cukup mahal. Setibanya di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan uang pembayaran dan menghadiahkan onta yang telah dibeli tersebut kepada Jabir.

Contoh kedua, Thalhah berhutang kepada Utsman sebanyak lima puluh ribu dirham. Lalu dia keluar menuju masjid dan bertemu dengan Utsman.Thalhah berkata, “Uangmu telah cukup, maka ambillah!”. Namun Utsman menjawab : “Dia untukmu, wahai Abu Muhammad, sebab engkau menjaga muruah (martabat)mu”.

Suatu hari Qais bin Saad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu merasa bahwa saudara-saudaranya terlambat menjenguknya, lalu dikatakan keadannya : “Mereka malu dengan hutangnya kepadamu”, dia (Qais) pun menjawab,“Celakalah harta, dapat menghalangi saudara untuk menjenguk saudaranya!”, Kemudian dia memerintahkan agar mengumumkan :“Barangsiapa yang mempunyai hutang kepada Qais, maka dia telah hapuskan”.Petang harinya beranda rumahnya patah, karena ramainya orang yang menjenguk. [21]

Sebagai akhir tulisan ini, kita dapat memahami, bahwa Islam menginginkan kaum Muslimin menciptakan kebahagian pada kenyataan hidup mereka dengan mengamalkan Islam secara kaffah dan tidak setengah-setengah. Dalam permasalahan hutang, idealnya orang yang kaya selalu demawan menginfakkan harta Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dititipkan kepadanya
kepada jalan-jalan kebaikan. Di sisi lain, seorang yang fakir,hendaklah hidup dengan qana’ah dan reda dengan apa yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya.

Semoga kita semua dijauhkan olehNya dari lilitan hutang,dianugerahkanNya ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan rezeki yang halal dan baik.

Minggu, 01 Desember 2013

Senin, 25 November 2013

Opat kalima pancer

Opat kalima Pancer teh nyaeta palsapah kahirupan urang Sunda anu geus ngahiji ngajadi darah daging dina ketak kahirupan, rengkak saparipolah urang Sunda,. eta kusabab karuhun urang geus bisa maca alam jeung ka-hakikianana. Terus nyurup kana gerak, musik, itungan, jeung ampir sakabehna ngagunakeun dasar kahirupan opat kalima pancer.
Naha naon tea atuh anu di sebut opat teh? Jeung anu mana anu disebut kalima pancer-na? Urang mimitian tina nalungtik diri maca awak urang heulanan. Dina awak urang aya anu disebut sisi opat diman nangtung, nyakujur, siga urang kapanan boga sisi hareup, sisi tukang, sisi kenca jeung sisi katuhu. Tah eta teh kapanan opat sisi sanes? Ari anu kalima na mana? Anukalimana mah nya kapanan awak urang anu ngabogaan sakabehna. Ieu dadaran kasar dina ngajelaskeun sisi anu ku para sepuh rada teu patos diebrehkeun gancang-gancang, kusabab dina ngaguar dadaran ieu estuning henteu mung sakadar bacaan lahir wungkul, da upami diteraskeun mah jujutananan nyaeta muka lawang lain ngeunaan kumaha carana apal kana awak urang, samemeh urang apal ka Pangeran urang.
Urang teraskeun, dina ieu bacaan [ maca= ningali tina sisi lain/ makna palsapah] sakabeh unsur anu aya di alam, anu dilakonan, kalawan talajak manusa sakabehna, eta teh mangrupa simbol dina hirup kumbuh kumelendang di ieu alam, geura urang baca sisi hareup teh kapanan pikahareupeun, sisi tukang mangsa anu geus dilakonan, sisi kenca, sisi kagorengan, sisi katuhu harti tina sisi alus , kabeh diawak urang. Kamana urang nyanghareup (hirup) didinya urang ngabogaan opat perkara anu pasti jadi kalawan ngahiji diawak urang, kumaha urang nyanghareupan isuk, kumaha urang ninggalkeun waktu lalakon anu geus akliwat mangasa katukang, naha urang teh rek jadi jalma anu cek masyarakat alus atawa goreng? keur jalma anu apal kana laku jeung lakuning hirupna, pasti bisa nyaluyukeun jeung alamna,eta jalma pasti bisa hirup dimana bae ayana. dina sisi lain urang baca bae rehna anu disebut opat sisi awak urang teh, sacara garis mah nyaeta horizontal, atawa datar, hartina garis urang hirup kumbuh dialamna, cek urang islam mah disebutna Hablumminannas atawa jalur kahirupan kamanusaan, sedeng anu disebut kalima pancer sacara garis nyaeta vertikal atawa jalujur manusa jeung pangeranana atawa hablumminalloh.
ngarah teu jero teuing, urang buka tina tataran dasar maca awak tina angka-nagka anu nuduhkeun angka opat ka lima kabeh nerap dina awak urang, cobi itung sabaraha jari urang? sabarah anggota awak urang? naha disebutna Panca indera? sabaraha tea eta teh? ari getih aya sabarah jenis? kabeh nuduhkeun itungan alam dina awak urang jeung itungan karuhun urang teh ngan lima. sabaraha unsur ari alam teh?
urang baca ramo urang,naha aya lima? eta nuduhkeun rehna urang kudu bisa maca cinggir,jariji,jajangkung,curuk jeung jempol. Kumah kirata na? (kirata = dikira-kira tapi nyata). Cinggir ( urang teh kudu diajar mikir atawa pake otak teh keur ngolah jeung maca alam), Jariji ( kudu diajar ngahijikeun pamanggih atawa elmu panemu), Jajangkung ( kudu kapanggih ka jangkung na, jucung, atawa kabiruyunganana dina kapangeranan), Curuk (kudu diajar nyukcruk sing kapanggihna) tah lamun geus kapanggih anu opat mah maka eta jalma teh bakal jadi jalma jempolan. naha kumah pentingna jempol teh? sok urang titenan, ku jempol leungit tina ramo urang, kapanan sakitu susahna urang rek nyokot naon bae oge, tapi aya jempol jeung hiji ramo laina, masih keneh bisa nagajalankeun fungsi leungeun. hartina sakumaha penting pisan urang kudu jado jalma jempolan teh bari jeung sagala kurang oge, tapi hirup kalawan ngarti kana lakuning hirup eta nu disebut jalma.
Tina ieu weh bisa katingal ciri, matak urang sunda mah lamun nuduhkeun teh make jempol sanes? komo lamun manggih anu disebut alus mah bakal ngacungkeun jempol.
salajengna, urang baca anggahota awak urang teh aya sabaraha? kahiji sirah, anu kadua leungeun, katilu awak, kaopat suku, anu kalima nyaeta, rasaning rasa anu bisa ngahijikeun sakabehna, contona, anu katincak suku anu nyengir beungeut, anu kasundut leungeun nu ngagorowok sungut, abri jeung kareuwas tepi kateu bisa dahar atawa nginum, tah anu kalima teh anu ngahirupkeun kabehanana, naon tea? peun heula nya?.
Panca Indera kapanan Lima anggota indera paningal, pangambung, panguping, pangecap sareng rasaning rasana tina panon jeung paningalna, ceuli jeung pangupingna, irung jeung angseuna, baham jeung pangrasana. emutkeun ani kalima na.
Getih kade ulah disangka aya dua, eta oge kapanan aya Lima, cikan geura, aya getih beureum, bodas, hideung, koneng, jeung getih anu disebut intisarina getih, sebut wae rasaning rasa na getih dina awak urang, panginten kauninga kumah pami urang kakirangan atanapi kumaha ketakna getih dina awak urang.
ayeuna urang lumaptkeun heula kaluar, maca unsur alam , kahiji seuneu, kadua taneuh, katilu cai, kaopat angin anu kalimana nyaeta anu ngahijikeun kabehanana, aya anu nyebut langit, atawa kosmik hirupna ieu alam. tuh nya kabaca.
ke sugan dina aosan salajengna urang langkung nyosok jero mah, ayeuna urang baca bae laku gerak urang sunda minagka dasar dina sagala rengkak, ebrehna mah dina jurus silat kahareup tukang kenca katuhu, bari jeung balik katengah atawa ngajadi puseur.
dina widang musik, sok geura aos deui sabaraha ketuk ari anu disebat sawilet? teras di baca, naha ari scale urang mah ngan lima? da mi na ti la ? sareng rea rea deui, ke urang teraskeun.sok heulanan sing kaparendak mudah-mudahan ieu sing janten pangbuka manah maca ayat sabenerna dina awak urang.

Jumat, 08 November 2013

Merenungi Ayat-ayat Al Qur’an Surat al Munafiqun untuk Instropeksi Agar Kita Tidak Masuk Dalam Golongan Kaum Munafiq

suka berdusta itu munafiq

Orang Munafiq itu punya ciri-ciri gemar berdusta, dan untuk menutupi kedustaannya itu mereka hobby bersumpah dengan atas nama Allah.  Mereka juga memiliki sifat sombong untuk menutupi ketidak-tahuannya (kejahilannya). Dan karena kejahilannya itu maka mereka menjadi terbiasa berbuat fasiq (melakukan dosa-dosa besar). Jika mereka berada di tengah kaum beriman berlagak selayaknya orang-orang beriman, tetapi sesungguhnya mereka adalah benar-benar musuh bagi kaum beriman. Keberadaan mereka ini sangat membahayakan bagi keselamatan kaum beriman. Sehingga ada muncul istilah sebutan untuk seorang munafiq ini sebagai “srigala berbulu domba”, “musuh dalam selimut” dan perbuatan mereka bagaikan “menggunting dalam lipatan”.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta,menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, menghalangi (manusia) dari jalan Allah, mereka tidak dapat mengerti (kalau diberi penjelasan), orang-orang munafik itu tidak memahami (tentang kebaikan), mereka menyombongkan diri, maka amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
Berikut ini ayat-ayat tentang sifat dan perbuatan kaum munafiq, semoga dengan merenungi ayata ini kita bisa introspeksi diri sehingga kita bisa menghindari sifat-sifat buruk orang-orang munafiq.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (١) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ (٣) وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (١) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ (٣) وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤) – See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-al-munafiqun-ayat-1-11.html#sthash.fym2OUu0.dpuf
63:1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.
63:2. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
63:3. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.
63:4. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. (Padahal) Mereka adalah seakan-akan (bagaikan) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

وَ

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ (٥) سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٦) هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَفْقَهُونَ (٧

63:5. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.
63:6. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
63:7. Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ (٨

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٩) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١١) .

63:8. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.
63:9. Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
63:10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”
63:11. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bacaan Al Qur’an…. Pahalanya Bisa Dikirim untuk Mayit

pahal bacaan al qu'ranAda sebagian umat Islam yang berani terang-terangan sambil menyombongkan diri mengatakan bahwa pahala dari bacaan al Qur’an tidak bisa dikirim / diberikan kepada mayit (orang yang sudah meninggal). Mereka menggunakan dalil bahwa orang yang sudah mati maka terputus amalnya. Ya benar, ini adalah dalil yang benar / shahih, akan tetapi mereka salah menerapkan dalil ini. Sebab pahala bacaan al Qur’an itu dilakukan oleh orang yang masih hidup, bukan dilakukan oleh si mayit itu sendiri. Maksudnya terputus amalnya adalah orang mati sudah tidak bisa beramal, sudah tidak bisa baca Al Qur’an lagi, dan amaliah lainnya kecuali Allah berkehandak lain ( pada masa Nabi Muhammad pernah terjadi ada mayit membaca Al Qur’an di dalam kuburnya ).
Ketika sudah dijelaskan seperti di atas, mereka masih mempertanyakan sambil meledek, bagaimana cara mengirimkan pahala bacaan Al Qur’an tersebut? Apakah dengan melalui surat lewat pak pos, demikian mereka sering meledek amaliah ‘kirim pahala untuk si mayit’. Mereka lupa ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sudah barang tentu sangat mudah mengirim pahala untuk si mayit, yaitu melalui do’a. Praktiknya, kita membaca al Qur’an, membaca al Qur’an itu ada pahalanya, 1 huruf pahalanya 10. Misalnya kita baca surat Yasiin, al Ikhlas, Annas, al fatihah, coba hitung ada berapa huruf itu? Coba hitung pahalanya. Itu baru oleh satu orang, biasanya dalam tahlilan itu ada beberapa orang pelakunya. Coba hitung lagi pahalanya dari bacaan masing-masing orang tersebut. Jelas, pahalanya banyak sekali bukan?
Nah, pahala dari bacaan al Qur’an yang sangat banyak tersebut dikirim untuk si mayit melalui berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala : “Allohumma taqobbal wa aushil tsawaaba ma qoro-naahu minal Qur’anil ‘adziim…. dst.  Artinya: “Yaa Allah… terima dan sampaikanlah pahala bacaan al Qur’anul ‘adziim yang telah kami baca…. dst.
Itulah sebagian do’anya, apakah dengan demikian anda masih berani mengatakan pahala bacaan al Qur’an tidak sampai kepada mayit? Ingat firman Allah Swt: “Berdo’alah kalian kepada-KU niscaya Aku perkenkan do’amu… “  ( al Qur’an, Surat al Mu’min, ayat 60 ). Kalau masih ada yang tidak percaya atas diperkenankan do’a hamba, maka orang tersebut ingkar al Qur’an, artinya menentang Allah Swt.
Dijelaskan dalam Syarh AL Kanz :

وقال في شرح الكنز إن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان أو صوما أو حجا أو صدقة أو قراءة قرآن ذلك من جميع أنواع البر ويصل ذلك إلى الميت وينفعه ثم أهل السنة انتهى والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل كذا ذكره النووي في الأذكار وفي شرح المنهاج لابن النحوي لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور والمختار الوصول إذا سأل الله إيصال ثواب قراءته وينبغي الجزم به لأنه دعاء فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعي فلأن يجوز بما هو له أولى ويبقى الأمر فيه موقوفا على استجابة الدعاء وهذا المعنى لا يختص بالقراءة بل يجري في سائر الأعمال والظاهر أن الدعاء متفق عليه أنه ينفع الميت والحي القريب والبعيد بوصية وغيرها وعلى ذلك أحاديث كثيرة

“sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah.
Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “Tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa untuk dikirmkan merupakan hal yg lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yg jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak” Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy Juz 4 hal 142,Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy Juz 15 hal 522 ).