Kembang sungsang dinang kunang Kotak kurawis wayang Lindu nira bumi bengkah Adam adam babu hawa Siskang danur wilis Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya Anwas anwar ngagelaraken Malih kang danur citra Nurcahya nursari nurjati Dangiang wayang wayanganipun Semar sana ya danar guling Basa sem pangangken-angken Mareng ngemaraken Dat Kang Maha Tunggal Wayang agung wineja wayang tunggal Wayang tunggal

Kamis, 27 April 2017

7 Pemikiran Tentang Kesabaran yang Tak Lekang Waktu


“Tuhan menganugerahi kejeniusan tanpa kesabaran bagi seseorang, dan kesabaran bagi orang lain tanpa kejeniusan. Prestasi yang bisa diraih oleh gabungan kedua hal tersebut seringkali mengejutkan.”
– Walter C. Klein –

”Kesabaran merupakan mitra kebijakan.”
– St. Augustine –

“Jika saya berhasil membuat sebuah penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya dibandingkan dengan keahlian lain yang saya miliki.”
– Sir Isaac Newton –

Salah satu keahlian paling membantu yang dapat dimiliki oleh seseorang jika ia ingin bertumbuh adalah kesabaran. Kesabaran dan keuletan dapat membantu anda melalui semua tantangan.
Namun mengapa rasanya sulit untuk menjadi sabar? Dan bagaimana kesabaran dapat membantu anda dalam kehidupan?
Berikut merupakan tujuh pemikiran yang tak lekang waktu yang mungkin dapat membantu anda menjawab pertanyaan diatas.

1. Pemahaman Sosial Dapat Menghalangi Langkah Anda.

“Bagaimana masyarakat yang ada saat ini, dengan segala hal yang serba instan, dapat mengajarkan kesabaran pada para kaum muda?”
– Paul Sweeney –

Segala hal bergerak dengan sangat cepat dalam masyarakat saat ini. Segala hal yang bersifat instan sudah tertanam dalam pikiran banyak orang.
Saya tidak mengutarakan hal ini untuk menentang keadaan masyarakat saat ini. Saya mengatakan hal ini untuk memberikan sedikit penjelasan mengenai mengapa kesabaran sulit untuk dipahami dan digunakan untuk keuntungan anda.
Pemahaman sosial tidak terlalu memperhitungkan kesabaran. Tuntutan masyarakat saat ini adalah untuk melakukan sesuatu dengan segera. Dan setelah terbiasa dengan cara tersebut, anda mungkin ingin memiliki banyak hal dengan segera. Sehingga pemikiran mengenai kesabaran mungkin sedikit.. aneh.

2. Anda Akan Memperolehnya Dengan Kesabaran.

”Ia yang memiliki kesabaran, dapat memiliki apa yang ia inginkan.”
– Benjamin Franklin –

Pemikiran ini mungkin tidak begitu populer diantara orang-orang. Mereka mungkin tidak ingin mendengarnya. Namun hal inilah yang dilakukan oleh orang-orang sukses. Mereka bersabar.
Mungkin sebagian orang menganggap kesuksesan tersebut merupakan buah dari bakat besar yang mereka miliki. Bakat mungkin merupakan penyebabnya. Namun orang-orang mungkin tidak melihat kerja keras yang mereka lalui selama bertahun-tahun sebelum mereka mencapai kesuksesan. Atau mereka memilih untuk tidak melihat sisi lain tersebut dan merasionalisasi hal tersebut menjadi “bakat”. Sehingga mereka tidak harus memikirkan fakta bahwa mereka memiliki peluang untuk bekerja keras untuk mencapai kesuksesan tersebut. Bahkan peluang untuk mewujudkan impian yang mereka miliki saat ini.
Akan lebih mudah bagi sebagian orang untuk menyimpulkannya sebagai bakat, dan tetap memimpikan keberhasilan yang serba instan.

3. Jangan Menyerah.

”Kesabaran sangatlah penting; seseorang tidak bisa segera memanen lahan yang ia baru tanam.”
– Soren Kierkegaard –

“Bukan karena saya pintar, namun karena saya menghadapi masalah lebih lama.”
– Albert Einstein –

Karena masyarakat meminta kita untuk menemukan cara tercepat dalam melakukan sesuatu, maka sangatlah mudah bagi kita untuk menyerah setelah anda mengalami kegagalan hingga 5 kali. Hal tersebut sangatlah wajar, namun apa yang terjadi jika seseorang terus berusaha? Dan untuk setiap kegagalan orang tersebut semakin memperoleh lebih banyak keahlian untuk mengatasi masalah tersebut?
Saya berpendapat bahwa orang-orang membuat kesalahan dengan menyerah terlalu cepat. Pikiran anda mungkin memiliki kerangka waktu untuk mencapai kesuksesan. Kerangka semacam ini mungkin tidak berhubungan dengan kerangka berpikir anda dalam dunia nyata.
Cukup berguna jika anda melepaskan diri sejenak dari perspektif yang diiklankan dan membiarkan kenyataan meresap ke dalam pikiran anda. Belajarlah dari orang-orang yang telah mencapai tujuan yang anda inginkan. Ajak mereka bicara, bacalah apa yang mereka katakan dalam buku atau melalui internet. Hal ini tidak akan memberikan rencana secara utuh namun dapat memberikan anda perspektif yang diperlukan untuk mencapai tujuan anda.
Bukan berarti anda tidak pernah berhenti, namun hal semacam ini akan membantu anda bertahan anda lebih lama.
Dan hal ini juga bukan berarti anda harus melakukan hal yang sama berulang kali. Sebaiknya anda melakukan kerjanya dan memperoleh pengalaman. Ambil pelajaran dari apa yang bisa anda pelajari dari kehidupan nyata. Lalu ubahlah tindakan anda dan cobalah lagi.

4. Bersabar Memberikan Anda Keuntungan.

”Keunggulan yang diterima oleh orang lain dibandingkan dengan orang lain adalah tetap menjaga diri untuk tetap tenang dan memegang kendali dalam setiap keadaan.”
– Thomas Jefferson –

Sementara orang lain kehilangan kendali, anda bisa tetap tenang dan bersabar. Sementara orang lain menyerah setelah mencoba beberapa kali, anda terus mencoba. Sementara orang lain berlarian mencari solusi tercepat bagi masalah mereka, anda tetap bertahan di jalur anda.

5. Kesabaran Merupakan Bentuk Proteksi.

”Kesabaran merupakan perlindungan dari kesalahan sama halnya seperti pakaian melindungi anda dari rasa dingin. Jika anda mengenakan lebih banyak baju ketika udara semakin dingin, rasa dingin tidak akan memiliki pengaruh terhadap anda. Jika anda menumbuhkan rasa sabar dalam diri anda ketika anda melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak akan berdampak apapun pada diri anda.”
– Leonardo Da Vinci –

Poin ini sangat bermanfaat bagi anda. Dengan kesabaran, kesalahan atau kegagalan tidak akan berakhir seperti akhir dunia. Kegagalan tidak lagi memiliki kekuatan emosional atas diri anda hingga membuat anda menyerah. Jika anda tetap mengerjakan apa yang anda yakini dan terus menyesuaikan cara anda melakukan sesuatu maka kehidupan anda akan membaik.

6. Bangunlah Kesabaran.

”Kesabaran tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam. Membangun kesabaran sama halnya dengan membangun otot. Setiap hari anda harus mengusahakannya.”
– Eknath Easwaran –

”Kita tidak akan pernah belajar menjadi berani dan sabar jika hanya ada sukacita di dunia ini.”
– Helen Keller –

Semakin anda bersabar, semakin mudah hal-hal di sekeliling anda. Kesabaran sama seperti otot yang anda bangun selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan Keller, kehidupan dapat mengajarkan anda menjadi lebih sabar. Dalam masa-masa sulit kadang anda tidak memiliki pilihan lain selain untuk bersabar. Masa-masa inilah yang akan memperkuat kesabaran anda.
Ketika kita muda kita memperoleh hal-hal yang kita inginkan dengan mudah dari orang tua dan orang dewasa lain. Ketika beranjak dewasa kita balajar bahwa orang-orang tidak memberikan semua yang kita inginkan. Jika kita menginginkan sesuatu kita harus belajar untuk bersabar.
Jika tidak, maka kita akan terperangkap dalam situasi dimana kita mengambil hal-hal tidak sesuai dengan keinginan anda. Hal ini bisa menimbulkan rasa ketidakpuasan dalam diri anda.

7. Bersabarlah Dengan Diri Anda Sendiri.

“Bersabarlah dalam segala hal, namun yang terpenting adalah bersabar terhadap diri anda sendiri. Jangan sampai keberanian anda hilang karena anda menyadari ketidaksempurnaan anda, sebaliknya berpikirlah untuk memperbaikinya – setiap hari mulailah dengan baru.”
– St. Francis de Sales –

Hal ini sangatlah penting untuk anda ingat jika anda dalam tahap mengembangkan kepribadian serta kehidupan anda. Karena hal-hal mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang anda inginkan. Anda akan mengalami kegagalan, anda akan menyerah karena merasa takut, anda akan melakukan hal-hal yang anda tahu seharusnya tidak anda lakukan.
Jangan menjatuhkan diri anda sendiri atau menyerah. Bersabarlah dengan diri anda sendiri. Dan cobalah lagi keesokan harinya.
http://www.akuinginsukses.com

Rabu, 26 April 2017

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: NU dan Peran Kenegaraannya



PIDATO H. AS'AD SAID ALI DI ISTAMBUL

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

Hadirin yang kami hormati,

Sebuah kehormatan bagi kami, karena diberi kesempatan untuk mengikuti pertemuan dalam rangka mempromosikan perdamaian di Afghanistan. Turki tepat mengadakan pertemuan ini karena Turki adalah negara yang mengembangkan moderasi Islam sebagai wujud dari nilai kerahmatan Islam.

Tentunya kami sangat menghargai berbagai pihak yang melakukan inisiatif, demi terselenggaranya pertemuan ini. Mungkin kami diundang pada pertemuan ini, karena pada Juli yang lalu, kami Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan pertemuan dengan 20 ulama Afghanistan, untuk berbagi pandangan dan pengalaman tentang Islam moderat, serta merumuskan langkah-langkah demi terwujudnya perdamaian di Afghanistan. Karena kemampuan kami terbatas, maka kami memohon maaf, jika ulama-ulama yang diundang bersifat terbatas.<>
Pertemuan ini secara strategis merupakan second track diplomacy, yakni diplomasi antar-masyarakat yang dipelopori oleh para ulama. Second track diplomacy ini merupakan alternatif, demi mewujudkan perdamaian, sebab meskipun para ulama bukan pihak berwenang pengambil kebijakan, namun ulama memiliki kewajiban untuk mendorong dan memberikan pemikiran bermakna, demi terwujudnya perdamaian. Hal ini wajar sebab ulama adalah penerang bagi umat. Ulama sebagai pewaris nabi (warastatul anbiya’) memiliki peran signifikan dalam proses transformasi masyarakat.
Oleh karena itu, perwujudan perdamaian di Afghanistan penting, sebab ia menjadi parameter perdamaian di dunia Islam, dan ikut menyumbangkan usaha berharga bagi penanggulangan terorisme. Pada pertemuan di Indonesia, kami telah memberikan pandangan dan pengalaman ulama-ulama NU dalam rangka mengawal perjalanan bangsa. Kami bukan partai politik, tetapi secara konsisten ikut memikirkan dan mengawal Republik Indonesia (RI), sejak pra-kemerdekaan, hingga pasca-kemerdekaan. Dalam pertemuan itu, ada 9 prinsip yang disepakati oleh ulama-ulama Afghanistan dan PBNU. Salah satu ulama besar yang ikut merumuskan 9 prinsip ini adalah almarhum al-maghfurlah Prof Dr Burhanuddin Rabbani. Beliau dengan optimis ikut merumuskan prinsip-prinsip ini dan menganjurkan agar prinsip tersebut digulirkan secara terus-menerus, sehingga bisa memberikan inspirasi bagi perwujudan Islam moderat dan perdamaian di dunia Islam. 9 prinsip tersebut meliputi: 
1. To affirm the principle of Islam as religion of compassion "Rahmatan lil 'alamin", which upholds the principle of good morality (al-Akhlaq al-Karimah), Islamic brotherhood (al-Ukhuwah al-Islamiyah), and the principles of being moderate (al-Tawassuth), balanced (al-Tawazun), tolerance (al-Tasamuh) and just (al-I'tidal).
2. To affirm the need to rebuild mutual acceptance, mutual trust and mutual brotherhood between various components of the nation in Afghanistan (al-Ukhuwah ak-Sya'biyyah al-Wathoniyyah al-Afghaniyyah).
3. To encourage the formation of independent and soverign Afhan that is free from all intervention, Colonialism in all its manifestations.
4. To return the role of representative institutions with attention to the comprehensive representativeness in the nation building (al-Tanmiyyah al-Watthoniyyah).
5. Expressing sincere will to end all forms of conflicts and dispute that occurred in all regions of Afghanistan, and to return the refugees into their home place gradually.
6. To assure the right of residence for all citizens in all parts of the country, as they have the right to reside anywhere, to join organizations, with attention to the local culture and wisdom.
7. As to implement the national reconciliation, it is necessary to reinforce the role of Peace Council and Reconciliation Commission in Afghanistan, and also to reinforce the integration of Afghanistan, and also to reinforce the integration of Afghanistan in order to resolve all problems of the past.
8. For all parties to participate in creating public goodness (al-Mashalih al-'Ammah) including the rehabilitation of economic facilities and infrastrucuture, educational facilities, health facilities, and religious facilities.
9. As the making for peace is necessary, we need further reconciliation efforts that require advanced involvement of a facilitator which is accepted by all components of the nations of Afghanistan.
Dengan sembilan perinsip ini, Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, bisa menjadi katalisator bagi upaya strategis dalam perwujudan perdamaian di Afghanistan. Tentu selain prinsip keislaman, upaya ini juga membutuhkan langkah-langkah demokratis dalam menyatukan berbagai pihak di Afghanistan, sehingga kepentingan bangsa bisa menjadi "titik pemersatu" atau kebaikan bersama (common good) yang melampaui segenap perbedaan kepentingan.  
Hadirin yang kami hormati,  

Dalam kaitan inilah, izinkan kami berbagi pandangan dan pengalaman terkait dengan peran ulama dalam mengawal perjalanan bangsa, melalui prinsip keislaman yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini penting, sebab sebagai muslim nahdliyyin, pertama-tama kami memahami diri sebagai orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan sebaliknya, orang Islam yang berada di Indonesia. Positioning ini menjadi penting, sebab dengan memahami diri pertama kali sebagai orang Indonesia, maka corak keberislaman kami pun bisa sesuai dengan kebutuhan mendasar bangsa kami. Dengan memahami diri sebagai muslim Indonesia, maka kami tidak tercerabut dari akar kebudayaan kami, dan akhirnya tidak memaksakan pandangan serta persoalan yang bukan menjadi persoalan bangsa kami. 

Oleh karena itu dalam sejarah NU, organisasi yang pertama kali didirikan para ulama-pesantren (sebelum kelahiran NU) bukanlah Nahdlatul Muslimin, melainkan Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Bangsa, 1916). Karena berada dalam konteks kolonialisme, maka ulama-ulama pesantren tidak lagi mengedepankan kekelompokan Islam yang bersifat terbatas, melainkan suatu kebangkitan bangsa demi perjuangan mengusir penjajahan. Nahdlatul Wathon sebagai pusat pergerakan kemerdekaan ini kemudian diperkuat dengan pendirian Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) yang merupakan upaya para ulama untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat, vis a vis kolonialisme. Nahdlatut Tujjar kemudian menjadi perjuangan praksis pada level ekonomi, di samping perjuangan pada level kebangsaan melalui Nahdlatul Wathon.

Segenap pola perjuangan ini kemudian disempurnakan melalui pembentukan Tashwirul Afkar (1918), sebuah forum diskusi para ulama, untuk mengembangkan wawasan keislaman yang kontekstual dengan kebutuhan bangsa. Berpijak dengan pembentukan ketiga organisasi inilah, NU sebagai naungan organisasional bagi perjuangan ulama-ulama pesantren, didirikan pada 31 Januari 1926. 

Kesadaran kebangsaan ini bisa terbentuk, karena kami memahami Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Artinya, karena rahmat Islam tidak hanya untuk umat muslim, maka perjuangan Islam bisa diperluas ke dalam konteks kebangsaan yang tentunya melampaui sekat-sekat keagamaan. Kami, Nahdlatul Ulama (NU), secara prinsipil memang memahami Islam terutama sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

Artinya, Islam ketika dilaksanakan secara benar, akan mendatangkan rahmat, baik untuk orang Islam maupun bagi seluruh alam. Islam sebagai agama penyempurna tidak hanya membatasi kebaikannya, murni untuk umat Islam semata, melainkan untuk semesta alam, baik seluruh manusia, makhluk dan kehidupan itu sendiri. Kesempurnaan Islam terletak di dalam kesemestaan ini, yang akhirnya tidak membatasi dirinya dalam klaim kelompok, klaim golongan, apalagi klaim pribadi. Kebaikan, kebenaran dan keadilan Islam bersifat menyeluruh, karena Kemahakuasaan Alloh SWT meliputi segala sesuatu.

Dalam QS. Al-Baqarah: 163 Alloh berfirman:   وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ


Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha pemurah lagi Maha Penyayang. 

Hal serupa ditegaskan di QS. Al-Anbiya’: 107:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ  


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. 

Sifat Rahman dan Rahim Alloh, serta derajat Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi semesta alam, telah menunjukkan ketinggian nilai Islam, yang sempurna, justru karena ia meliputi segala sesuatu. Rahmat yang berakar pada asma terpuji Alloh, al-Rahman, adalah Kasih Sayang Alloh yang tentu mencakup seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Islam tidak bisa membatasi rahmat-Nya, hanya untuk umat Islam, karena ciptaan Alloh melampaui sekat keagamaan, organisasi, negara, dan bahkan batasan manusiawi. 

Hadirin yang kami hormati,   

Pemahaman Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin mengandaikan sebuah pengertian, bahwa Islam telah mengatur tata hubungan, menyangkut aspek teologis, ritual, sosial, dan kemanusiaan. Karena dasar dari pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin adalah Kasih Sayang Allah, maka nilai kerahmatan ini menjadi dasar bagi seluruh tata hubungan tersebut. 

Dalam kaitan ini, sebagai organisasi yang menjalankan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin, NU memiliki nilai-nilai operasional yang mengejawantahkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin tersebut. Pertama, tawasuth. Yakni sikap mengambil jalan tengah ketika berada di dua titik ekstrim, dengan menampilkan keberislaman yang moderat dan kontekstual. Pilihan atas sikap tawasuth ini didasari oleh kemampuan NU untuk menemukan nilai-nilai substantif dari Islam, dengan pengamalan ajaran Islam yang kontekstual dengan kebutuhan umat.

Kedua, i’tidal. Sikap adil ini menjadi substansi, konsistensi, dan akurasi yang senantiasa dijaga di dalam posisi tawasuth tersebut, sehingga jika tawasuth berkaitan dengan posisi, maka i’tidal adalah substansi yang dijaga di dalam posisi tawasuth tersebut. Dalam praktiknya, sikap tawasuth dan i’tidal ini kemudian melahirkan sikap-sikap nahdliyyah lainnya, yakni tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang) dan tasyawur (musyawarah).
Oleh karena itu, NU kemudian menjadi garda depan moderatisme Islam di Indonesia, karena ia telah menemukan pemahaman yang seimbang dan adil dari ajaran-ajaran Islam.  

Dalam menjalankan tawasuth dan i’tidal ini, NU menggunakan tiga pendekatan. Pertama, fiqh al-ahkam, yakni pendekatan syari’ah untuk masyarakat yang telah siap melaksanakan hukum positif Islam (umat ijabah). Kedua, fiqh al-da’wah, yakni pengembangan agama di kalangan masyarakat melalui pembinaan. Ketiga, fiqh al-siyasah, yang merupakan upaya NU dalam mewarnai politik kebangsaan dan kenegaraan.  

Dalam politik kenegaraan inilah, ulama-ulama NU telah menggariskan suatu kebijaksanaan fiqhiyyah sebagai mekanisme logis untuk menghadapi persoalan bangsa. Jadi, sah tidaknya suatu persoalan kenegaraan, sering dilihat dari sah tidaknya persoalan itu menurut cara-pandang fiqh. Salah satu contoh yang populer di kalangan kami adalah penggunaan kaidah fiqh, ma laa yudraku kulluhu laa yutraku julluhu: apa yang tidak bisa didapatkan semuanya, jangan ditinggal prinsip dasarnya. Kaidah ini kemudian menjadi landasan normatif dalam menetapkan sikap NU terhadap corak kenegaraan Indonesia yang memang bukan negara Islam.

Hal ini dipraktikkan dalam beberapa fase sejarah. Pertama, pra-kemerdekaan. Dalam Muktamar NU di Banjarmasin (1935), NU dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apa hukum pemerintahan yang secara konstitusional berada dalam kekuasaan Hindia-Belanda? Apakah ia berarti negara kafir (dar al-harb), ataukah bisa diupayakan suatu negara Islam (dar al-Islam)?

Dengan berpijak pada tradisi fiqh, maka wilayah Hindia-Belanda ini kemudian ditetapkan sebagai dar al-salam atau dar al-shulh (negeri damai). Argumentasinya jelas: meskipun pemerintahannya tidak Islami, tetapi umat Islam di dalamnya memiliki hak untuk melaksanakan syari’at Islam dengan nyaman dan aman. Hal ini menegaskan sutu prinsip, bahwa ketika prinsip dasar Islam, yakni pelaksanaan syari’at bisa dilaksanakan di sebuah negara yang struktur konstitusionalnya tidak Islami; hukum bagi negara tersebut bukanlah dar al-harb, melainkan dar al-salam, negeri damai. 

Kedua, fase pembentukan negara-bangsa RI. Dalam perumusan konstitusi dan bentuk kenegaraan Indonesia (1945), masyarakat kami dihadapkan pada persoalan krusial dan sensitif: apa corak kenegaraan Indonesia? Apakah ia harus menjadi negara agama, ataukah negara sekular? Umat Islam, sebagai umat mayoritas, tentu memiliki harapan agar kenegaraan RI menjadi negara Islam.

Dalam kaitan ini, NU memiliki pemikiran lain. Karena sejak awal, kebangsaan Indonesia bersifat majemuk, maka corak kenegaraan yang berdasar pada satu konsepsi keagamaan, akan bertabrakan dengan kondisi majemuk tersebut. Hal ini sebenarnya telah diwadahi oleh kebijaksanaan falsafah negara kami, yakni Pancasila.
Di dalam falsafah yang digali dari kebijaksanaan kebudayaan Nusantara ini, terdapat prinsip Bhinneka Tunggal Ika tanhana Dharma Mangrwa: kemajemukan itu hakikatnya satu, karena tidak ada Kebenaran yang mendua. Meskipun bangsa kami memiliki suku, agama, dan budaya yang begitu majemuk, namun ia tetap berada dalam satu kebenaran, karena tidak ada Kebenaran yang mendua. 

Dengan ajaran bijak dari local wisdom ini, maka ulama NU akhirnya menentukan sikap: negara RI bukan negara agama, tetapi juga bukan negara sekular. Ia adalah negara yang didasari oleh nilai-nilai keagamaan. Hal ini dengan baik dijaga oleh keberadaan sila pertama dari Pancasila itu sendiri, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan menempatkan nilai ketuhanan sebagai prinsip (sila) pertama dalam Pancasila, maka negara RI adalah negara yang mendasarkan diri pada nilai ketuhanan. Hal ini memiliki konsekuensi strategis, yang jika dilihat dari prinsip ke-NU-an, menggambarkan sikap tawasuth dan i’tidal. Yakni, di satu sisi, negara memiliki kewajiban untuk melindungi dan mengembangkan kehidupan beragama.
Sementara di sisi lain, agama memiliki peran signifikan: ia menjadi dasar etis bagi pembentukan suatu masyarakat madani yang dibutuhkan demi terbangunnya kenegaraan yang beradab. Agama akhirnya menjadi “agama publik” (public religion) yang digerakkan oleh para pemuka dan organisasi keagamaan, untuk membentuk etika sosial dan etika kewarganegaraan yang berlandaskan nilai-nilai etis keagamaan. 

Pada titik ini, prinsip ma laa yudraku kulluhu laa yutraku julluhu menemukan ruangnya lagi. Sebab, ketika nilai-nilai substantif Islam, seperti keadilan, kejujuran, saling mengasihi, kemashlatan, dsb bisa diterapkan untuk membentuk etika publik, perjuangan pendirian struktur kenegaraan Islam tidak lagi menjadi persoalan utama. Hal ini terkait dengan prinsip keislaman dalam NU, yang tidak terjebak dalam penerapan aspek formalis atau institusional dari syari’at, melainkan upaya demi terwujudnya tujuan utama syari’at (maqashid al-syari’ah). Tujuan utama syari’at itu terdapat dalam kemashlatan, yang mewujud dalam pembelaan terhadap lima hak dasar manusia, yakni hak hidup, hak beragama, hak berpikir, hak bekerja, dan hak berkeluarga. 

Fase ketiga, adalah fase azas tunggal Pancasila. Kami pernah mengalami satu masa, di mana negara (era Orde Baru) secara koersif, menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi politik, yang mengeliminir ideologi-ideologi lainnya. Di segenap lini masyarakat, baik partai politik maupun organisasi kemasyarakatan, Pancasila harus menjadi satu-satunya azas yang mengganti azas lainnya, termasuk azas Islam. 

NU pada Muktamar ke-27 di Situbondo (1984) kemudian mengambil sikap. Pancasila adalah azas kenegaraan, bukan azas agama. Selama tidak hendak menggantikan akidah Islam, maka Pancasila bisa diterima. Penetapan ini bisa kita pahami dengan menyimak ungkapan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dengan simbolis, beliau menjelaskan: “Pancasila adalah rumah kita. Sementara Islam adalah rumah tangganya”.

Artinya, Pancasila adalah bangunan rumah bersama, yang bisa ditempati oleh siapa saja. Sementara itu bagi warga NU, rumah tangga untuk menata rumah itu, tetaplah akidah Islam. Sikap dan ketetapan seperti ini bukan suatu logika taktis atau bahkan oportunisme politik. Melainkan sebuah sikap tawasuth yang lahir dari pemahaman atas substansi ajaran Islam, serta kesadaran atas kebutuhan untuk membangun kenegaraan yang beradab. Dengan menerima azas Pancasila ini, NU ikut membangun pola kenegaraan konstitusional, sebab dasar konstitusional tersebut, yakni Pancasila, adalah nilai-nilai luhur yang selaras dengan syari’at Islam.  

Berdasarkan pada pengalaman historis di atas, maka NU secara konsisten mengiringi perjalanan kenegaraan RI. Sebab menurut NU, struktur kenegaraan RI, dengan Pancasila sebagai falsafah, dan konstitusi yang memuat perlindungan dan pemenuhan atas hajat hidup masyarakat, adalah struktur kenegaraan yang secara substantif, sesuai dengan nilai-nilai dasar Islam. Di dalam kesesuaian dasariah inilah, NU menempatkan peran kenegaraannya. Oleh karenanya, di tengah upaya-upaya ideologis yang digerakkan oleh sayap ekstrim, seperti komunisme dan gerakan fundamentalis Islam, NU tetap berada di titik tawasuth dan i’tidal, sehingga di setiap fase sejarah kenegaraan RI, sikap NU senantiasa sama, yakni mengawal nilai-nilai keadilan yang menjadi prinsip utama dari syari’at Islam. 

Hadirin yang kami hormati,

Demikianlah pandangan dan pengalaman NU dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara substantif bisa diambil kesimpulan bahwa dengan memahami Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, maka pergerakan Islam tidak akan terbatas pada kelompoknya sendiri. Dalam kaitan ini, Islam adalah agama yang sempurna, justru karena ia bisa merangkul segenap persoalan yang berada di luar batas kediriannya. Paradigma perjuangan Islam untuk bangsa, untuk masyarakat, dan untuk kemashlahatan semua golongan akan menunjukkan kebesaran Islam, sebab sebagai agama rahmat, ia memiliki keluasan tak terbatas untuk menyelesaikan segala persoalan. Dengan keluasan Islam inilah, diharapkan berbagai perbedaan di dunia Islam bisa ditemukan kembali pada titik yang sama, yakni kebesaran Islam itu sendiri, sebagai agama yang rahmatnya meliputi semesta alam.

Semoga sumbangan pandangan dan pengalaman ini bisa menjadi inspirasi dan pijakan berharga bagi upaya perwujudan perdamaian di Afghanistan dan dunia Islam secara umum. 


Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh


Hormat kami, 9 November 2011
Atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

H. As’ad Said Ali

http://www.nu.or.id/post/read/35031/islam-rahmatan-lil-amplsquoalamin-nu-dan-peran-kenegaraannya

Selasa, 25 April 2017

Bral Mamah

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un 
Pun Biang,Mertua/ Pun Nini
Almarhummah

MOMOH TARYAMAH
BINTI
W.J.T USUP

Lahir : Ciamis, 09 November 1960 M. – Rebo Pon ,20 Jumadil Awal 1380 H.
Tilar : Ciamis, 17 April 2017 M. - Senen Pahing, 20 Rajab 1438 H.

 Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un 
Geus tilem hiji pamuntangan nu natrat iwal kaheman.
Geus muguran hiji tunggul karahayuan, nu nyesa iwal panineungan.
Geus ilang hiji komara, nu hibar ukur dangiangna...
Seungit malati ngandung ciri aya nu nganti ligarna samboja
medalna tangara mukana pangbagea
Nu nganti taman firdaus nu suci
nu ngabageakeun para malaikat di sawarga...
Bral...
wilujeng angkat...
Katineung salira tanwande nganteng
“Allahummaghfir Laha Warhamha Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘Anha Wa Akrim Nuzulaha Wa Wassi’ Mudkhalaha Waghsilha Bilmaa`I Wats Tsalji Wal Baradi Wa Naqqihi Minal Khathaayaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadla Minad Danasi Wa Abdilha Daaran Khairan Min Daarihi Wa Ahlan Khairan Min Ahlihi Wa Zaujan Khairan Min Zaujihi Wa Adkhilhal Jannata Wa A’idzhu Min ‘Adzaabil Qabri Au Min ‘Adzaabin Naar. Alloohummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa wasyaahidinaa waghooibinaa washoghiironaa wakabiironaa wadzakarinaa wauntsaana. Alloohumma man ahyaitaha minnaa fa ahyihi ‘alal islaami waman tawaffaitaha minnaa fatawaffaha ‘alal iimaani. Alloohumma laa tahrimnaa ajroha walaa tudhillanaa ba’daha birohmatika yaa arhamar roohimiina. Walhamdu lillaahi robbil ‘aalamiina”
 Keluarga Almarhummah Momoh Taryamah
Kulawargi putra putu mantu nu salamina mikanyaah
Pun Bapak : Warko Bin Tirtameja
Putra :
1.    Aang Rusmawan,B.Sc
2.    Zius Setiawan
Mantu :
1.    Yuli Dewi Karmila, AM.Keb
2.    Eva Yulia
Putu :
1.    Yusuf Harris Darmawan
2.    Falisha Nayla Shanum
3.    Panji Nurrohmalik Setiawarman

4.    Narayan Nabil Setiawarman

Sabtu, 15 April 2017

Kitab Bidayatul Hidayah #1: Memahami Kalimah Basmalah

Kitab Bidayatul Hidayah #1: Memahami Kalimah Basmalah
Kitab Bidayatul Hidayah #1: Memahami Kalimah Basmalah
لسم الله الرحمن الرحيم
Hanya dengan nama Allah Yang memberikan rahmat di dunia lagi Yang memberi rahmat di akhirat aku mulai mengkaji kitab bidayatul hidayah
 MEMULAI DENGAN BASMALAH
Kitab bidayatul hidayah ini sebagaimana kitab yang lainnya dimulai dengan basmalah. Mengapa memulai dengan basmalah ? Para ulama menjelaskan :
1.       Karena mengikuti contoh Al-Quran yang mana tartib susunan mushaf Al-Quran dimulai dengan basmalah. 
2.       Karena melaksanakan hadits :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَإِنَّهُ قَالَ كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَقْطَعُ
Dari Abū Huroiroh rodiyallōhu ‘anhu dari Nabi Shollallōhu ‘alaihi wasallam sesungguhnya beliau bersabda, “Setiap perkara yang penting (dipandang baik menurut syara’) yang tidak dimulai sebabnya denganbismillaahirrahmaanirrahiim sedikit berkahnya” (H.R. AbūDāwūd, Ibnu Mājah dan An-Nasāi).

SUBYEK DAN PREDIKAT BASMALAH
Rangkaian redaksional tekstual basmalah merupakan rangkaian keterangan tanpa subyek dan predikat. Namun tidaklah mungkin sebuah kalimat tanpa subyek dan predikat, karena keduanya adalah unsur pokok dari kalimat sempurna. Dengan demikian basmalah seharusnya ada subyek dan predikatnya.
Siapa dan apa yang “dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Yang Maha Penyayang” ?
Dalam konteks ilmu nahwu dalam bahasa Arab, subyek dan predikat itu ditunjukkan dengan butuhnya haraf jar ba di awal rangkaian basmalah kepada muta’allaq (rangkaian yang dikaitinya). Dengan tidak adanya muta’allaq tersebut secara tekstual redaksional, maka dipastikan muta’allaq tersebut adalah kalimat yang secara tekstual tidak dicantumkan yang dalam bahasa Arab disebut mahdzuf (secara makna ada, tapi secara teks tidak tertulis).
Apa rangkaian yang tidak tercantum itu ? Itulah subyek dan predikatnya.
Apa subyek dan predikatnya ? Karena secara teks tidak ada, maka dapat dimaknakan secara umum. Subyeknya bisa siapapun. Predikatnya bisa pekerjaan apapun. Namun keumumumannya dibatasi oleh hadits :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَإِنَّهُ قَالَ كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَقْطَعُ
Dari  Abū Huroiroh rodiyallōhu ‘anhu dari Nabi shollallōhu ‘alaihi wasallam sesungguhnya beliau bersabda, “Setiap perkara yang penting (dipandang baik menurut syara’) yang tidak dimulai sebabnya denganbismillaahirrahmaanirrahiim sedikit berkahnya” (H.R. Abū Dāwūd, IbnuMājah dan An-Nasāi).
Dengan demikian, subyek dan predikatnya terbatas pada hal-hal yang baik menurut syara’.
Dalam konteks awal kitab ini, maka subyek dan predikatnya dapat dimaknakan dari dua sisi, yaitu :
1. Dari sisi penyusun kitab,  subyek dan predikatnya adalah “saya menyusun kitab bidayatul hidayah ini.
2. Dari sisi pembaca dan pengkaji kitab, subyek dan predikatnya adalah “saya membaca/mengkaji kitab bidayatul hidayah ini”
Dalam konteks ilmu balaghah dalam bahasa Arab, posisi subyek dan predikat menentukan. Bila subyek dan predikat di awal, maka tidak memberikan tambahan makna secara khusus. Bila subyek dan predikat di akhir, maka memberikan makna pengkhususan (hashr/qasr).
Pada kasus basmalah, para ulama lebih mendukung penempatan subyek dan predikat di akhir. Mengapa ? Agar memberikan makna pengkhususan yang itu berarti tauhid. Maka dalam konteks pengkaji kitab bidayatul hidayah, maka makna basmalah menjadi “hanya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Yang Maha Penyayang saya mulai mengkaji kitab bidayatul hidayah ini”
Untuk kasus-kasus amal yang lain, silahkan dimaknakan mengikuti cara memaknakan ini dengan menyesuaikan subyek dan predikatnya sesuai konteksnya.
Dalam prakteknya, subyek dan predikat tersebut boleh dilafalkan dengan lisan dan boleh di dalam hati saja.
MAKNA BI
Bi di awal basmalah memiliki beberapa makna, di antaranya adalah isti’anah (mohon pertolongan), mushahabah (tabarruk/ngalap berkah), ilshaq (wushul/sampai).
Bila pembaca basmalah mengitikadkan makna isti’anah, maka dengan basmalah itu ia memohon pertolongan kepada Allah (dengan berwashilah) dengan nama Allah.
Bila pembaca basmalah mengitikadkan makna mushahabah, maka dengan basmalah pada perbuatannya itu ia memohon keberkahan kepada Allah (dengan berwashilah) dengan nama Allah.
Bila pembaca basmalah mengitikadkan makna ilshaq, maka dengan basmalah itu ia memohon diterima sampai kepada Allah (dengan berwashilah) dengan nama Allah.

MAKNA ISMILLAH
Rangkaian ismillah adalah idhafat (dua kata yang dijadikan satu) lafazh ism dan lafazh Allah. Idhafat ini dapat dimaknakan beberapa makna, yaitu :
1.       Lil ‘ahdi
Dengan makna lil ‘ahdiismillāhi secara ilmu manthiq adalah qodiyyah hamliyyah syakhsiyyah mūjabah. Dengan demikian, makna ismillāh adalah ismin khōssin min asmaillāh (nama yang khusus dari nama-nama Allah). Nama khusus itu adalah lafaz Allah.
2.       Lil jinsi
Dengan makna lil jinsiismillāhi secara ilmu manthiq adalah qodiyyah hamliyyah kulliyyah muhmalah mūjabah. Dengan demikian, makna ismillāh adalah ayyismin min asmāillāh (nama yang manapun dari nama-nama Allah).
3.       Lil istigraqi ba’dhil afrod
Dengan makna li istigrōqi ba’dil afrōdiismillāsecara ilmu manthiq adalah qodiyyah hamliyyah kulliyyah muhmallah musawwaroh bisūril juziyyi mūjabah. Dengan demikian, makna ismillāh adalah ba’dismillāhi (sebagian nama Allah).
4.       Lil istigroqi jami’il afrod
Dengan makna li istigrōqi jami’il afrōdiismillāsecara ilmu manthiq adalah qodiyyah hamliyyah kulliyyah muhmalah musawwaroh bissūril kulliyyi mūjabah. Dengan demikian, makna ismillāh adalah jamī’ismillāhi (seluruh nama Allah).
Dengan demikian, rangkaian ismillah memberikan petunjuk diperkenankannya berwasilah dengan nama Allah atau dengan nama yang mana pun dari nama-nama Allah atau dengan sebagian nama Allah atau dengan seluruh nama Allah.

MAKNA ARRAHMAAN DAN ARRAHIIM
Secara ilmu sharaf, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim berasal dari rahima yang berarti merahmati. Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah bentuk kata sifat, sehingga bermakna Yang merahmati (memberi rahmat).
Selain itu, Ar-Rahmaan mengikuti wazan fa’laan yang memiliki makna kesementaraan sedangkan Ar-Rahiim mengikuti wazan fa’iil yang memiliki makna kesinambungan. Karena itu Ar-Rahman dimaknakan Yang Memberi rahmat di dunia sebagai tempat yang sementara sedangkan Ar-Rahiim dimaknakan Yang Memberi rahmat di akhirat sebagai tempat yang abadi (terus berkesinmbungan).
Dalam konteks rangkaian basmalah, makna Ar-Rahman dan Ar-Rahiim tersebut didukung pula oleh susunannya yang merupakan badi’ tartib. Ar-Rahman lebih dulu baru kemudian Ar-Rahiim. Dunia lebih dulu baru kemudian akhirat.
Rahmat di dunia adalah mazro’atul akhirah. Rahmat di dunia adalah modal untuk mendapatkan rahmat akhirat. Dengan rahmat menggapai rahmat. Lain syakartum lazidannakum, dengan bersyukur mendapatkan tambahan rahmat. Rahmat yang tertinggi adalah bertemu dengan Allah. Dengan isti’anah dan tabarruk mencapai wushul.

ISYARAT PADA BASMALAH
Basmalah terdiri dari empat kata pokok, yaitu ism, Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Hal ini memberikan isyarat :
1.       Pertolongan Allah kepada hamba-Nya dari syetan yang menggodanya dari empat penjuru, yaitu depan, belakang, kanan dan kiri.
2.       Ampunan Allah kepada hamba-Nya dari empat wajah dosa, yaitu dosa yng tersembunyi, dosa yang terang-terangan, dosa di gelap malam dan dosa di terang siang. (Ust. Yazid Kalam)
https://kmnu.or.id/konten-359-kitab-bidayatul-hidayah-1-memahami-kalimah-basmalah.html