Kembang sungsang dinang kunang Kotak kurawis wayang Lindu nira bumi bengkah Adam adam babu hawa Siskang danur wilis Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya Anwas anwar ngagelaraken Malih kang danur citra Nurcahya nursari nurjati Dangiang wayang wayanganipun Semar sana ya danar guling Basa sem pangangken-angken Mareng ngemaraken Dat Kang Maha Tunggal Wayang agung wineja wayang tunggal Wayang tunggal

Jumat, 12 Desember 2014

7 Cakra Utama Dalam Tubuh Manusia

Cakra
Cakra berarti perputaran energi atau pusat aliran energi dalam bentuk roda/cakram. Berputarnya roda energi menimbulkan pusaran energi, pusaran energi yang terbentuk akan di alirkan ke alat-alat organ dalam pada tubuh fisik kita melalui nadi yang  sangat halus (meridian). Aliran energi ini bertanggung jawab atas kerja dan fungsi organ dalam di dalam tubuh fisik. Diamati secara kewaskitaan pada tubuh etheris kita, terdapat cekungan seperti sebuah terompet dimana didalam intinya terdapat bulatan sinar menyerupai matahari/bulan kecil yang  memancarkan sinar dengan jumlah berkas sinar yang  berbeda-beda. Bulatan sinar inilah yang  dikenal dengan Cakra.
Dalam inti cakra terdapat jalinan simpul yang  menyerupai anyaman. Anyaman/inti cakra ini berhubungan erat dengan cakra-cakra lainnya, melalui nadi-nadi atau jalur meridian (tempat mengalirnya prana). Dari beberapa cakra ada cakra-cakra yang  akar simpulnya berhubungan langsung dengan nadi utama (Sushumna nadi) yang  terletak di rongga tulang punggung tubuh fisik yang diapit oleh dua nadi lain yaitu Ida (terletak sebelah kiri, dingin, sifat chandra/bulan) dan Pinggala (terletak di sebelah kanan, panas, sifat surya/matahari). Ketiga pokok nadi ini adalah sangat berperan dalam olah spiritual. Pencapaian-pencapain kebangkitan spiritual adalah mengandalkan tiga nadi tersebut. Demikian pula kebangkitan Kundalini adalah memanfaatkan tiga nadi ini untuk mengolah prana dengan berbagai teknik meditasi.
Sebelum meningkatnya seseoarng dalam pencapaian tertentu dalam spiritualnya maka para Siswa Rohani hendaklah paham cara-cara mengembangkan cakra-cakra terutama cakra inti dan cakra pendukung yang terhubung kepada setiap cakra inti. Di dalam lapisan tubuh terdapat 365 cakra yang terhubung ke cakra-cakra inti. Manusia mempunyai 7 cakra inti dan 7 cakra di luar tubuh.
Tujuh cakra inti tersebut adalah :
1.    Cakra Muladhara (dasar)
2.    Cakra Svadhistana (sex)
3.    Cakra Manipura (pusar)
4.    Cakra Anahata (jantung)
5.    Cakra Wisudha (tenggorakan)
6.    Cakra Ajna (mata ketiga)
7.    Cakra Sahasrara (mahkota)

1. Cakra Muladhara (cakra dasar)
Cakra ini letaknya di ujung bawah tulang punggung/ekor dengan warna kemerah-merahan dengan 4 berkas sinar/daun. Bagian tengahnya terdapat warna sinar oranye. Semakin ke dalam terdapat sedikit bulatan sinar kuning. Disinilah bersetananya dewa Brahma dengan saktinya Dewi Saraswati serta bersemayamnya kekuatan suci Ibu Dewi Kundalini yang  berwujud ular emas bermahkota raja melilit lingga Swayambu Siwa dengan tiga setengah lilitan utama. Pengetahuan tentang cakra ini sangatlah penting mengingat cakra Muladhara merupakan pondasi yang  perlu dikokohkan sebelum menuju ketingkatan spiritual yang  lebih tinggi. Bila pondasi rapuh menyebabkan Anda terhalang di tengah jalan.
Cakra muladhara dipengaruhi dari unsur-unsur zat padat (pertiwi), dimana unsur ini berhubungan erat dengan: kebugaran tubuh fisik, hal-hal yang berhubungan dengan materi, perkembangbiakan, kreatifitas dan pertahanan diri.
Seseorang yang ingin tetap sehat, ingin punya anak dan menginginkan kekayaan materi yang berlandaskan spiritual hendaklah sering melakukan latihan meditasi untuk mengembangkan cakra dasar ini. Kekayaan bukanlah hal yang dilarang dalam spiritual. Orang yang kaya harta dan berlandaskan pada ajaran dharma adalah orang-orang yang memanfaatkan hartanya untuk diri sendiri dan peningkatan umat lain. Untuk menjaga agar tetap kaya maka tetaplah sebagai pelaku spiritual dan menjaga dengan baik dan meningkatkan diri mengembangkan cakra-cakra lainnya sehingga berbagai kemuliaan akan dapat dinikmati di alam skala dan niskala nantinya.

2. Cakra Svadhistana (cakra sex)
Cakra swadhistana letaknya bersesuaian dengan daerah kemaluan yang memancarkan 6 berkas sinar/helai daun berwarna oranye (jingga). Mandalanya berbentuk bulan sabit sebagai lambang air. Di cakra ini berstanannya dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Laksmi/Sri.
Sifat air adalah yang mempengaruhi cakra svadhistana yang mengontrol segala macam nafsu dan emosi. Cakra ini adalah tingkatan yang  lebih rendah dari cakra wisudha (cakra tenggorokan) yang menyebabkan tingkah laku yang kasar, hilangnya akal sehat, rasa kurang peduli, kurang percaya pada diri sendiri, kecemburuan dan keserakahan serta kemandulan.
Bilamana bermeditasi pada cakra svadhistana serta memahami kesadarannya niscaya akan mempunyai sikap pengontralan diri yang  tinggi terhadap sifat-sifat negatif tersebut di atas, daya ingat semakin baik dan daya kecappun semakin baik. Daya kecap tinggi adalah termasuk intuisi yang tajam. Seorang intelektual yang berwawasan tinggi serta dipenuhi kebajikan akan tercipta dari orang-orang yang sudah berkembang cakra sexnya. Berbagai macam kemuliaan yang berhubungan dengan kemakmuran akan dapat dicapainya.

3. Cakra Manipura (cakra pusar)
Cakra manipura disebut pula cakra pusat pemrosesan prana. Akar-akar cakra ini menyebar hampir keselurah cakra utama/inti. Cakra manipura letaknya bersesuaian dengan cekungan pusar pada tubuh fisik. Bila kita makan, makanan ini diproses di daerah perut. Hasil pemrosesan yang  bersifat energi halus disebarluaskan melalui nadi-nadi yang  berpusat di cakra manipura. Proses pembakaran di perut yang  bersifat lebih kasar digunakan untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh fisik.
Cakra manipura terdiri dari 10 berkas sinar/helai daun berwarna kehijauan pada bagian tepinya dan semakin ke tengah warna kekuningan serta pada inti cakra adalah warna kemerahan. Dewa yang  berstana adalah dewa Wisnu dengan saktinya.
Cakra manipura bersifat api di mana hawa panasnya selalu menuju ke atas. Cakra manipura lebih banyak mempengaruhi sistem pencernaan tubuh fisik dengan mengendalikan usus-usus di dalam perut. Lebih kurang tiga jari di bawah cakra manipura ada yang disebut dengan Tantien yang berkaitan erat dengan cakra manipura dalam proses meningkatkan tenaga dalam dan membangkitkan unsur api serta listrik dalam tubuh manusia. Tantien adalah pusat dari pengolahan gas/ether menjadi unsur api.
Bermeditasi pada cakra ini maka manusia akan mengerti tentang berbagai pengaruh atau pengetahuan astral, menguasai tenaga dalam dan menguasai sifat dari unsur: api, panas, cahaya/sinar dan listrik. Dengan unsur api/cahaya (teja) segala emosional bersifat: ketidakpuasan, kesedihan, kejengkelan, kemarahan, putus asa, stres, merasa menderita dan berbagai penyakit berkaitan dengan pikiran dapat dihancurkan yang  pada akhirnya membawa kita pada kebahagiaan yang  sempurna disamping dapat mengerti jalan menuju kematian.
Ilmu-ilmu yang tergolong kanuragan atau kewisesaan juga berupaya untuk mengembangkan cakra manipura. Telah banyak ditunjukkan oleh praktisi dari banyak aliran yang mampu membuat bola lampu menyala. Di Bali, dari pengamatan Pinisepuh, Cokorda dari Puri Kesiman telah menunjukkan kemampuannya menguasai unsur listrik dengan memanfaatkan petir untuk melakukan hubungan telepon kepada salah satu reporter tv swasta. Hp berdering namun tidak ada nomer hp muncul di layar dan mereka berkomunikasi. Juga dengan penguasaan unsur api yang baik manusia bisa mengendalikan hujan seperti membuat hujan dan menghentikan hujan.
Pada tingkatan yang sudah tinggi, latihan dari membangkitkan cakra manipura akan menimbulkan sensasi angin, bahkan mengundang hujan atau terkadang petir di siang bolong. Sesama manusia waskita atau wikan akan saling memahami kejadian alam seperti ini. Bagi pemula, perlu bimbingan seorang guru yang paham untuk meditasi cakra manipura sebab pada pembangkitan unsur api, manusia berhubungan dengan energi planet-planet dan apabila berlatih pada saat mendung sangatlah berbahaya. Mendung sering membawa listrik yang besar dan seandainya kebangkitan sedang terjadi pada siswa tanpa disadari, listrik statis pada tubuh pada saat latihan akan memancing listrik dari mendung. Jadi bahayanya adalah disambar petir.

4. Cakra Anahata (cakra jantung)

Cakra anahata memiliki 12 berkas sinar/helai daun dengan warna tidak selalu sama pada setiap orang. Warna cakra ini lebih dominan dipengaruhi oleh sifat-sifat dasar seseorang, dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan spiritualnya.

Cakra anahata berhubungan erat dengan cakra sahasrara (cakra mahkota), karena cakra ini merupakan tempat terakhirnya jalur antahkarana. Jika diamati secara waskita sifat-sifat seseorang bersesuaian dengan tingkat frekwensi dari warna-warna tersebut yang menyimbolkan arti seperti:

1.    Merah muda/pink simbol dari: cinta kasih
2.    Hijau simbol dari: pelindung, penyejuk
3.    Biru simbol dari:  tertutup
4.    Kuning/putih simbol dari: kesucian
5.    Keemasan simbol dari: luhur atau keagungan
6.    Ungu simbol dari: spiritual tinggi
7.    Merah menyala simbol dari: semangat, emosional atau marah.

Cakra ini merupakan cakra yang  amat penting seperti halnya jantung pada tubuh fisik. Dimana cakra anahata merupakan pusat pemerosesan prana dari cakra-cakra di bawahnya untuk dibawa ke cakra yang  lebih tinggi dan sebaliknya.

Cakra sahasrara memberi ide, selanjutnya cakra soma/cakra-cakra yang ada di telapak tangan memikirkan dan diputuskan oleh cakra ajna/cakra mata ketiga. Setelah memperoleh hasil dari keputusan apakah itu baik/bener/jelek/salah, diteruskan ke cakra anahata. Cakra anahata menimbang dengan tingkatan emosi yang  lebih halus kemudian diteruskan atau tidak. Bila hasil keputusan cakra ajna diteruskan ke tingkat cakra bawah oleh cakra anahata maka terjadilah gerak tubuh fisik sesuai keputusan cakra ajna.

Cakra anahata ada dua buah, terletak di daerah depan (daerah dada) dan belakang dada berdekatan dengan organ jantung pada tubuh fisik manusia. Cakra anahata depan lebih banyak bertugas menjaga keseimbangan kerja dari jantung tubuh fisik dan kelenjar tyumus. Cakra anahata belakang mengontrol dan memberi energi pada paru-paru, juga jantung fisik dan kelenjar tyumus.

Pada cakra anahata berstana dewa Rudra/Iswara dengan saktinya yang  bersifat seperti udara. Manfaat bermeditasi pada cakra anahata dan menguasai rahasianya akan memiliki kemampuan: mendengar gema/suara batin yang tepat, mendengar suara hati, niscaya orang ini juga mampu mengontrol sifat-sifat dari udara, menyadari atau merasakan dengan batin keadaan orang lain apakah dia sedih/senang, baik/buruk serta merasakan kehadiran mahluk yang  bersifat halus (gaib), melihat sosok gaib dengan mata batin, berkemampuan meneropong/melihat jarak jauh dengan kemampuan batin.

Kemampuan lain dari berkembangnya cakra anahata adalah: mampu berkomunikasi dengan mahluk gaib, bisa menangkap/mendengarkan dengan batin petunjuk/pawisik dari sosok gaib yang bersifat lebih tinggi/dewata, dengan jnana/pemusatan pikiran yang baik maka setiap pikiran menjadi terwujud sebagai suara batin yang mana memungkinkan komunikasi menjadi dua arah atau disamping bisa mendengar suara batin juga bisa mengeluarkan suara batin.  Kemampuan mewujudkan suara batin diperlukan saat melakukan pemujaan dan permohonan kepada Tuhan. Tuhan bersifat maha mengetahui akan tetapi kesadaran manusia yang memupuk dan meningkatkan cakra anahata adalah manusia-manusia yang dimuliakan dan diangkat derajatnya baik di skala maupun niskala.

Perasaan kasih sayang semakin tumbuh, kepercayaan terhadap Tuhan semakin mantap dan dapat mengatasi masalah dengan tenang. Sidharta Gautama dikenal mempunyai kasih sayang yang tinggi sehingga menjadi Budha. Kasih sayang yang tinggi adalah kesaktian yang paling tinggi dari seluruh kesaktian yang ada.

5. Cakra Wisudha (tenggorakan)
Cakra wisudha letaknya di daerah tenggorokan depan pada tubuh fisik. Cakra ini mempunyai 16 berkas sinar/helai daun dengan warna dominan biru muda pada luarnya dan pada inti cakra  terdapat warna putih bening. Unsur-unsur yang  terdapat atau mempengaruhi adalah akasa (ether). Pada cakra ini berstanalah hyang Sadasiwa.
Cakra wisudha/tenggorokan merupakan pengontrolan tingkat emosi yang  lebih tinggi. Cakra ini berhubungan erat dengan cakra svadhistana/sex. Sifat-sifat yang dimiliki sama dengan yang berpengaruh dari cakra svadhistana tetapi dalam tingkatan yang lebih halus. Misalnya sifat kasar yang ditunjukkan tidak lagi dalam bentuk fisik yang vulgar. Tetapi dengan cara-cara taktik/politik yang licik dan dengan kesan intelektual. Dengan adanya hubungan ini gangguan cakra wisudha bisa mempengaruhi prilaku seperti yang disebutkan pada cakra svadhistana termasuk juga bisa menyebabkan kemandulan.
Apabila cakra ini aktif dan berkembang dan simpul-simpulnya terbuka maka kita menjadi waskita pendengaran yaitu mendengar suara/swara yang  bersifat halus (gaib). Mendengar jarak jauh. Mendengar di sini bukan lagi mendengar dalam batin tetapi mendengar dengan organ fisik layaknya mendengar suara dari kehidupan skala.

6. Cakra Ajna (mata ketiga)
Bagi mereka yang  sudah lama menekuni hal-hal spiritual tentu mengenal kegunaan cakra ajna/mata ketiga. Karena keaktifan cakra ajna sangat dibutuhkan yaitu untuk pewaskitaan/penglihatan/tembus pandang.
Berkembangnya cakra ajna maka manusia akan bisa melihat tembus pandang/meneropong ke masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Manusia yang demikian disebut sebagai waskita bahkan wikan.
Dengan kewaskitaan manusia dapat melihat mahluk-mahluk halus, energi halus, cakra-cakra beserta warna-warnanya, melihat aura dan bahkan para dewata sekalipun. Keaktifan atau berkembangnya cakra ajna memungkinkan kita memvisualisasikan sesuatu lebih jelas termasuk dapat menghipnotis dengan cara-cara yang halus.
Letak cakra ajna adalah di antara kedua alis dengan 2 berkas sinar/lembar helai daun dengan warna yang  berbeda. Sebelah daun berwarna keunguan dan sebelah kuning keputihan di inti cakra terdapat lingkaran dengan warna putih cemerlang (bagai sinar matahari).
Dewa yang  berstana adalah hyang Paramasiwa. Cakra ajna dikenal juga sebagai mata ketiga/mata lahir. Mata lahir dimaksud adalah mata non fisik yang berkemampuan layaknya mata fisik tetapi hanya melihat mahluk gaib/halus bahkan para dewata. Adalah kemampuan melihat yang lebih tinggi dari kemampuan melihat dengan mata batin sebab akan melihat detail dari suatu sosok gaib. Tetapi mata lahir ini tidak bisa meneropong jarak jauh.
Fungsi dari cakra ajna adalah mengontrol seluruh cakra-cakra di bawahnya. Berkembangnya cakra ajna adalah terjadi sesuai dengan perkembangan dari cakra-cakra di bawahnya.

7. Cakra Sahasrara (mahkota)
Cakra ini berada di luar tubuh yaitu kira-kira sejengkal tangan di atas kepala dengan akarnya pada ubun-ubun. Dengan seribu berkas sinar/helai daun berwarna-warni kemilauan, semua warna yang  terlihat sangat mengagumkan. Tidak ada kelihatan warna dominan kecuali beberapa lembar helai daun di tengahnya, yang mana keadaannya tergantung dari tingkat spiritual seseorang. Semakin tinggi spiritual seseorang warna ini menjadi kuning keemasan. Biasanya warna daun ini sesuai dengan warna cakra anahata.
Pada inti cakra terdapat tangkai seperti bunga teratai. Tangkai tersebut berhubungan dengan puncak kepala yang  sering disebut dengan antahkarana atau tali spiritual. Antahkarana adalah ukuran yang sangat penting guna mengetahui tingkat kerohanian seseorang. Jalur antahkarana merupakan jalur turunnya energi yang  maha suci.
Diamati secara waskita energi yang  bisa memasuki antahkarana hanya energi yang  maha suci (roh-roh yang  amat suci). Bila cakra sahasrara sudah berkembang akan menuntun manusia lebih mendalami hal-hal yang  bersifat kerohanian dan selalu ingin mengetahui ajaran-ajaran kesucian yang  berhubungan dengan ke-Tuhanan, ingin memahami sifat-sifat dengan kesadaran somia/buddhies yang  lebih tinggi, segala tindak tanduknya didasarkan atas ajaran suci (weda/pengetahuan suci).
Kebangkitan kundalini yang  mencapai cakra sahasrara akan menuntun seseorang dapat menilai dirinya sendiri dan menilai orang lain dengan bijaksana, tahu kebenaran yang  sesungguhnya. Bertemunya Kundalini sakti dengan Siwa pada cakra sahsrara memungkinkan seseorang mencapai moksa/hidup abadi/bebas penderitaan (bebas keduniawian dalam arti luas).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar