Senin, 24 Oktober 2016

Batik Ciamis

Kota Ciamis terletak bersebelahan dengan kota Tasikmalaya, di daerah Jawa Barat. Sebagai pewaris Kerajaan Galuh, kota Ciamis mendapat julukan Kota Manis. Kota Ciamis menjadi kota yang melanjutkan kharisma Kejayaan Galuh yang dikenal aman, damai, subur, dan Agamis. Tak banyak yang tahu jika kota ini dulunya memiliki industri batik yang maju pesat. Ciamis memiliki tradisi turun-temurun dalam sejarah kerajinan batik. Ada yang menyebutnya sudah ada sejak Kerajaan Galuh berjaya, sejak beberapa abad silam. Kota ini memiliki corak batik yang khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Sumber lain menyebutkan, batik mulai dikenal di daerah Ciamis pasca perang Diponegoro pada abad ke- 19. Pada saat itu, banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang meninggalkan Yogyakarta dan menuju ke barat, Ciamis merupakan salah satu kota yang dituju. Di Ciamis, para pendatang tersebut mulai menetap dan mereka yang ahli batik pun mulai menggiatkan lagi pembatikan sebagai pekerjaan sehari-hari. Sehingga banyak motif yang dihasilkan merupakan campuran dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta
Awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Masa keemasan batik Ciamis berlangsung pada era tahun 1960-an hingga awal 1980-an. Batik Ciamis mampu bersaing diantara dominasi tradisi batik Solo, Yogyakarta, maupun Pekalongan. Namun, sejak tahun 80-an keberadaan batik Ciamis mengalami kemunduran karena berbagai dampak perubahan ekonomi yang tidak menguntungkan para pengrajin batik di Ciamis. Terlebih setelah terjadi letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 yang menyebabkan matahari nyaris tak terlihat selama setahun lantaran debu vulkanik yang tak hentinya menyembur. Para perajin tak bisa menjemur hasil batik produksinya karena tidak adanya cahaya matahari. Puncaknya terjadi saat krisis moneter pada tahun 1997 yang menghentikan hampir seluruh kegiatan membatik di Ciamis.
Batik Ciamis awalnya hanya memiliki dua warna saja, yaitu warna coklat soga dan hitam dengan dasar putih. Hal tersebut karena awalnya Batik Ciamis banyak terpengaruh dengan Batik Pedalaman. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan pewarnanya pewarnanya dibuat dari pohon seperti mengkudu, pohon tom, dan sebagainya. Namun seiring perkembangan, Batik Ciamis tampil dengan aneka warna karena pengaruh Batik Pesisiran.
Batik Ciamisan Motif Parang Sontak
Batik Ciamisan Motif Parang Sontak
Sumber: http://csuartini.blogspot.com
Ingin belajar membatik? Klik Disini untuk melihat video tutorial membatik.
Batik Ciamis berbeda dengan batik dari daerah lain. Corak batik Ciamis tidak telalu ramai dan rumit. Motif batik Ciamis yang sering disebut Ciamisan, memiliki karakter sederhana. Ragam hias batik Ciamisan bernuansa naturalistik, banyak menggambarkan flora dan fauna serta lingkungan alam sekitar. Motif alam sekitar yang banyak dijumpai dalam batik ciamisan adalah rereng atau lereng. Motif yang menggambarkan tebing miring ini dipengaruhi motif parang pada batik Jawa Tengah. Motif lain adalah kumali, berupa empat bentuk yang mengelilingi pusat, dan cupat manggu, motif geometris bergambar buah manggis.
Batik Ciamisan Motif Cupat Manggu
Batik Ciamisan Motif Cupat Manggu
Sumber: http://www.diciamis.com
Kesederhanaan corak batik Ciamis tidak lepas dari sejarah keberadaannya yang banyak dipengaruhi daerah lain seperti ragam hias pesisiran dari Tasikmalaya, Garut, Indramayu dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik pedalaman, seperti dari Solo dan Yogyakarta juga turut andil dalam membentuk karakter warna dan komposisi motif batik Ciamisan. Pengaruh dari wilayah pesisir dan pedalaman yang berpadu dengan nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis melahirkan ragam motif Batik Ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegant. Motif yang tidak terlalu ramai namun tetap terlihat elegan sehingga Batik Ciamisan sering disebut sebagai Batik Sarian. Motif Ciamis tampil sebagai kain yang kalem, sesuai dengan jiwa masyarakat Ciamis yang tenang dan tidak bergejolak.
Batik Ciamisan (Pengaruh Batik Pedalaman)
Batik Ciamisan (Pengaruh Batik Pedalaman)
Sumber: http://www.ciamismanis.com
Batik Ciamisan Motif Sulur Anggrek (Pengaruh Batik Pesisiran)
Batik Ciamisan Motif Sulur Anggrek (Pengaruh Batik Pesisiran)
Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Batik Ciamisan Motif Sulur Kembang Krisan (Pengaruh Batik Pesisiran)
Batik Ciamisan Motif Sulur Kembang Krisan (Pengaruh Batik Pesisiran)
Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Ingin membeli alat-alat membatik? Klik Disini untuk mendapatkan alat-alat membatik.
Corak Batik Ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari. Motif batik di daerah Ciamis antara lain rereng lasem, parang sontak, rereng seno, rereng sintung ageung, kopi pecah, lepaan, rereng parang rusak, rereng adu manis, kumeli, rereng parang alit, rereng useup, rereng jenggot, rereng peuteuy papangkah.
Batik Ciamis Motif Rereng Taleus
Batik Ciamis Motif Rereng Taleus
Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Batik Ciamis Motif Lepaan Kupu-kupu
Batik Ciamis Motif Lepaan Kupu-kupu
Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Batik Ciamis Motif Lepaan Kembang
Batik Ciamis Motif Lepaan Kembang
Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Ingin membeli batik tulis eksklusif? Klik Disini untuk melihat katalog kain batik.
Batik Ciamis motif rereng eneng biasanya digunakan sebagai atasan atau baju, sedangkan rereng seno dipakai sebagai kain bawahan. Ciri khas gambar batik Ciamis antara lain tanaman daun rente dan tanaman daun kelapa. Tanaman daun rente adalah tanaman yang tumbuh di kolam-kolam penduduk yang ada di Ciamis. Batik motif daun rente atau daun kelapa menjadi inspirasi bagi perajin batik untuk dijadikan motif batik.
Batik tradisional khas Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kembali menggeliat dan mulai diperkenalkan kembali setelah vakum selama 28 tahun karena kalah saing dengan batik printing. Dengan empat motif ciri khas Ciamisan, seperti batu hiu, ciung wanara, galuh pakuan dan parang sontak, batik Ciamisan kini akan menjadi produk unggulan dan tak kalah bagusnya dengan batik kota lainnya.
Setelah ada pengakuan dari UNESCO, pembatik Ciamis kembali bersemangat mengangkat batik khas Ciamisan. Perajin mulai mendirikan kembali tempat pembuatan batik yang sudah puluhan tahun ditutup karena kalah pasaran dengan batik printing. Misalnya Sanggar Rukun Batik yang merupakan perajin batik khusus tradisional, sanggar ini mulai memproduksi kembali batik khas Ciamis dengan mempekerjakan sedikitnya 20 orang pekerja. Selain memproduksi batik, Sanggar Rukun Batik juga akan membuka tempat belajar membuat batik Ciamisan, khusus bagi warga dan generasi muda Ciamis. Tujuannya, agar batik Ciamisan bisa lebih dikenal, baik oleh warga Ciamis maupun luar kota. Dan agar batik Ciamis tak akan lekang oleh waktu.
Pemasaran batik Ciamis tidak hanya dilakukan di sekitar Ciamis tetapi juga sudah mencapai keluar Ciamis. Sentra batik Ciamis yaitu di Dusun Ciwahangan Desa Imbanagara Ciamis.
Untuk memajukan kerajinan batik di Ciamis, Pemda setempat mengharuskan setiap PNS Ciamis menggunakan motif khas batik Ciamis.
Bagi para pecinta batik, silakan jadikan Batik Ciamis sebagai koleksi tambahan anda. Semakin lengkap kan koleksinya. Baca juga artikel tentang batik yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. 
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar