Sabtu, 26 November 2016

Iman dan Islam dalam Perspektif Ihya’ Ulumuddin

Mengaji
Banyak ulama berupaya melakukan kajian objektif mengenai maksud kata iman dan islam. Apakah keduanya memiliki makna yang sama? Ataukah justru keduanya berbeda? Salah satu ulama yang mencobanya adalah Syaikh Abu Thȃlib Al-Maky. Namun kajian iman dan islam Syaikh Abu Thȃlib ini menuai kritik dari Hujjatul Islam Imam Abu Hȃmid Al-Ghazali, karena dinilai terlalu berbelit-belit dan justru membingungkan. Berangkat dari situ, Imam Ghazali membuat sebuah kajian yang lebih runtut dan sederhana difahami, versi beliau.
Imam Al-Ghazali dalam masterpiecenya, Ihya Ulumuddin menambahkan satu pasal khusus yang panjang lebar menjelaskan tentang iman dan islam. Dalam Kitab ‘Aqaid (Salah satu bagian dari kitab Ihya Ulumuddin) pasal tersebut disisipkan. Kajian beliau meliputi makna iman dan islam yang dikaji dari tiga aspek. Aspek bahasa, tafsir, dan kacamata fiqh.
Dari sisi bahasa, iman jika diartikan adalah tashdiq, yang artinya membenarkan. Sedangkan islam, adalah bentuk Arab dari kata pasrah, dan memasrahkan diri dengan cara tunduk, patuh, tidak membangkang, dan lain sebagainya.
والحق فيه أن الإيمان عبارة عن التصديق قال الله تعالى وما أنت بمؤمن لنا أي بمصدق والإسلام عبارة عن التسليم والاستسلام بالإذعان والانقياد وترك التمرد والإباء والعناد
“Pada kenyataannya, iman memiliki arti tashdiq (membenarkan), Allah SWT berfirman وما أنت بمؤمن لنا (Artinya: ‘Engkau tidaklah membenarkan-Ku’). Sedangkan islam artinya adalah taslim (pasrah) dan istislam (memasrahkan diri)”[1]
Tentu saja ini membuahkan kesimpulan, kalau dari segi kajian bahasa, islam dan iman tidaklah sama. Iman cenderung pada masalah keyakinan, masalah hati. Sementara islam adalah masalah pasrah lahiriyah, masalah anggota luar. Demikian Imam Al-Ghazali membahasakan.
Dari sisi tafsir dan penggunaan oleh syari’at (kata iman dan islam yang ditemukan dalam naskah Alquran dan hadis), beliau menguraikan benang simpul bahwa baik kata iman maupun islam memang kadang ditemukan dalam makna yang sama persis, dan kadang justru berbeda jauh maknanya.
والحق فيه أن الشرع قد ورد باستعمالهما على سبيل الترادف والتوارد وورد على سبيل الاختلاف وورد على سبيل التداخل
Pada kenyataannya, syari’at terkadang menggunakan kata iman dan islam dalam satu makna, berbeda makna, dan kadang dengan makna yang saling terjalin. ” [2]
Sulit dan tidak bisa disimpulkan begitu saja, menurut beliau, kalau iman dan islam adalah semakna dalam hal ini. Oleh karena hal ini, beliau menolak mentah-mentah pendapat kaum Mu’tazilah dulu yang langsung mengklaim kalau iman dan islam adalah semakna. Pemahaman yang salah dari mu’tazilah ini memunculkan kesimpulan yang salah pula kalau orang yang melakukan dosa besar tidak bisa dikatakan beriman mnurut mereka.
Tendensi yang dilampirkan Imam Al-Ghazali untuk melengkapi kesimpulan beliau adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Umar RA, hadis islam terbangun dari lima perkara (بُنِيَ الْإِسْلَامُ على خمس), yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, serta menunaikan ibadah haji. Karena pada kesempatan yang lain, Nabi Muhammad SAW pernah menjawab dengan kelima hal tersebut dikala seseorang datang menemui beliau dan bertanya tentang apakah itu iman.[3] Kedua hadis ini jika digabungkan akan menghasilkan kesimpulan kalau iman dan islam memiliki makna penafsiran yang sama persis.
Lalu jelas disebutkan dalam Alquran,
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ  [الحجرات: 14
Orang-orang Arab Badui berkata ‘Kami telah beriman’, katakanlah ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah kalian, ‘Kami telah masuk islam’ dan iman belumlah masuk kedalam hati kalian. ’ “(QS. Al-Hujurat; 14)
Ayat ini dengan gamblang menunjukkan kalau iman dan islam jelas memiliki makna penafsiran yang jauh berbeda.
Kemudian hadis yang menjadi dalil kalau iman dan islam memiliki makna yang terjalin satu sama lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
أنه سئل فقيل أّيّ الأعمال أفضل فقال صلّى الله عليه وسلّم الإسلام فقال أيّ الإسلام أفضل فقال صلّى الله عليه وسلم الإيمان. رواه أحمد
Nabi pernah ditanyai, ‘Amalan manakah yang paling utama?’ Nabi menjawab, ‘Islam’ Lalu orang tadi kembali bertanya, ‘Islam manakah yang palin utama?’ Nabi menjawab, ‘Iman’ ”(HR. Ahmad)
Maksudnya adalah, iman merupakan bagian penting dari islam. Tapi keduanya bukanlah hal yang sama.
Menanggapi penafsirannya yang berbeda-beda, Imam Al-Ghazali mencoba mempertegas, bahwa pemakaian kata iman dan islam secara bersamaan tidak akan lepas dari penggunaan majaz. Kalau iman dan islam sedang diartikan sebagai sesuatu yang berbeda, berarti islam diposisikan sebagai tashdiq bil qolbi, bahasa hati yang percaya akan kehadiran-Nya, dan islam diposisikan sebagai taslimnya anggota lahiriyah seseorang. Atau jika iman dan islam sedang ditafsirkan sebagai dua hal yang sama, maka iman kita letakkan tidak hanya sebagai porsi pasrahnya anggota lahiriyah saja, tapi juga anggota batin (hati). Penafsiaran yang lebih sesuai jika dikaitkan dengan penggunaan bahasa menurut Imam Al-Ghazali sebenarnya adalah penafsiran terakhir.
وهو أوفق الاستعمالات في اللغة لأن الإيمان عمل من الأعمال وهو أفضلها والإسلام هو تسليم إما بالقلب وإما باللسان وإما بالجوارح وأفضلها الذي بالقلب وهو التصديق الذي يسمى إيماناً
Penafsiran bahwa iman dan islam adalah dua hal yang saling terkait adalah penafsiran yang paling sesuai jika ditinjau dari sudut bahasa.  Karena pada dasarnya, iman merupakan bagian dari amalan –Amalan paling utama adalah iman-. Sedangkan islam jika diterjemahkan adalah memasrahkan diri, entah dengan hati, lisan, atau anggota badan lain. Dan upaya memasrahkan diri yang terbaik adalah dengan hati. Hal ini juga disebut sebagai tashdiq, kata lain dari bahasa ‘iman’.[4]
Imam Al-Ghazali tidak menjelaskan dengan spesifik, karena iman terkadang maksudnya adalah islam, dan sebaliknya. Atau terkadang ditemukan penafisran, jika iman dan islam artinya jauh berbeda.
Bersambung, Insya Allah…

[1] Ihya Ulumuddin 108/1 Darul Fikr.
[2] Ibid
[3] Lihat Sunan Al-Baihaqi bab I’tiqad. Hais ini diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Abbas RA.
[4] Ihya Ulumuddin 109/1 Darul Fikr.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar