Kembang sungsang dinang kunang Kotak kurawis wayang Lindu nira bumi bengkah Adam adam babu hawa Siskang danur wilis Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya Anwas anwar ngagelaraken Malih kang danur citra Nurcahya nursari nurjati Dangiang wayang wayanganipun Semar sana ya danar guling Basa sem pangangken-angken Mareng ngemaraken Dat Kang Maha Tunggal Wayang agung wineja wayang tunggal Wayang tunggal

Jumat, 08 April 2016

Imam Ghazali: Ragu-ragu Saat Shalat Adalah Gangguan Setan

"Menurut Al-Ghazali, penyebab datangnya perasaan waswas (ragu) pada orang yang mendirikan shalat karena kehati-hatian (ihtiyath) yang terlampau ekstrem ...."

shalat

Islam-Institute, Jakarta - Adalah Imam Al-Ghazali (Abu Hamid Al-Ghazali) dalam salah satu kitab karyanya yang berjudul Al-Kasyfu wat Tabyin fi Ghuruuril Khalqi Ajma'in, telah mengungkap rahasia macam-macam bentuk ketertipuan yang dialami hamba saat mereka berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai jalan ibadah. Salah satu dari bentuk ketertipuan manusia yang dikuak dalam kitab tersebut adalah berhinggapnya rasa waswas (keragu-raguan) pada seseorang ketika melaksanakan berbagai ritual ibadah khususnya dalamshalat.
Berdasarkan realitas keseharian kita dan pengalaman empiris di masyarakat, was was memang bisa menghinggapi siapa saja. Fenomena waswas bisa ditemui baik di lingkungan pesantren maupun komunitas masyarakat umum. Berdasarkan pengamatan kami, orang terpelajar dalam pengertian orang yang sudah mengerti hukum fiqih, paham ketentuan dan kaifiyah pelaksanaan suatu ibadah tertentu, tidak lantas menjamin bahwa ia selamat atau bebas dari terkena waswas.
Menurut Imam Al-Ghazali, rasa waswas acap menjangkiti kelompok ahli ibadah di antaranya adalah pada saat niat shalat. Setan tidak akan membiarkan begitu saja seseorang yang sedang berniat shalat secara sah. Namun Setan akan menggodanya hingga seseorang yang dilanda waswas itu tidak dapat menjumpai shalat jamaah, sehingga tertinggal dari kesempatan mengikuti shalat berjamaah.
Selanjutnya orang yang mengalami waswas ketika takbiratul ihram, lanjut Imam Al-Ghazali, dapat berakibat mengubah sifat bacaan takbir tersebut dari yang semestinya, misalnya panjangnya takbir berlebihan dari ketentuan yang semestinya lantaran sangat berhati-hati. Selain itu waswas dalam takbiratul ihram ini juga membawa dampak orang tersebut tidak dapat konsentrasi mendengarkan bacaan Al-Fatihahnya imam.
Imam Al-Ghazali berasumsi bahwa orang yang didera waswas di sepanjang pelaksanaan shalatnya ini, dirinya telah tertipu oleh semua keragu-raguaan yang dialaminya, seraya tidak menyadari bahwa hadirnya hati (khusu') saat shalat itu wajib. Dirinya benar-benar terpedaya oleh godaan iblis dan dihiasi dengan keragu-raguan akan semua itu.
Menurut Imam Al-Ghazali, sumber pemantik atau penyebab datangnya sikap waswas pada orang yang mendirikan shalat ini ialah karena kehati-hatian (ihtiyath) yang terlampau ekstremagar bisa sama persis sebagaimana kriteria yang ditentukan oleh fiqih dan tajwid, seraya menduga bahwa kehati-hatian yang berlebihan itu menjadi pembeda antara shalat dirinya dengan shalatnya orang awam kebanyakan, sehingga dengan cara begitu ia berharap dirinya tetap lebih baik di sisi Allah. Padahal perasaan seperti itu tidak lain merupakan bisikan Setan. (al/nu.or.id/M. Haromain)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar